Bijak Beropini dengan Data dan Fakta

Lombok Timur -Menyampaikan pendapat di tengah arus teknologi digital yang begitu masih seperti sekarang ini sangat mudahnya. Banyak sekali platform yang bisa digunakan oleh setiap pengguna ruang digital untuk menyampaikan pendapat, berkomentar juga mengungkapkan opininya.
Pada dasarnya siapa pun berhak memberikan pendapatnya terhadap sesuatu hal tanpa harus sebagai seorang ahli. Di Indonesia kebebasan untuk berpendapat diatur dalam Pasal 28E ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) yang menyatakan bahwa : Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.
Tiara Maharani, penulis dan jurnalis dalam Webinar Literasi Digital yang digelar Kemkominfo dan Siberkreasi di wilayah Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, Kamis 25 November 2021 mengatakan meski kebebasan beropini dijamin undang-undang dasar, seseorang dalam mengeluarkan pendapatnya harus menghargai hak orang lain, serta tunduk pada hukum yang berlaku.
Hal tersebut sebagaimana disebutkan dalam Pasal 28J ayat (2) UUD 1945 yang menyatakan bahwa : Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis.
Ada beberapa cara menyampaikan opini dengan baik. Pertama, usahakan dalam beropini menggunakan pola pikir kritis dan logis. Kritis juga dapat berupa sikap tidak apatis dan tidak fanatik. Kritis memang diperlukan terlebih di jaman yang serba canggih nan modern ini, dimana informasi dapat mudah didapat hanya dengan satu ketikan jari.
Lalu selektif. Harus bisa memilah mana yang memang bertujuan demi kemaslahatan bangsa mana yang kiranya kurang sesuai dengan nilai-nilai leluhur yang ada. “Sebelum beropini di media sosial, cobalah menyeleksi kalimatnya, seleksi dulu apakah saya perlu beropini seperti ini atau tidak,” beber Tiara lagi.
Selanjutnya, bentuk pengungkapan pendapat sebaiknya menggunakan data dan fakta. Hal demikian tentu untuk menjaga objektivitas kebenarannya. Beropini jika berlandaskan fakta yang benar dan tujuan yang baik pasti akan membawa perubahan yang positif bagi masyarakat. “Tapi jika hanya asal-asalan saja, bukan tidak mungkin akan menimbulkan kebingungan dan kegaduhan,” kata Tiara.
Selain Tiara juga hadir pembicara lainnya yaitu Astried Kirana, Managing Director, M.Zainudin, SH, MH, Dosen/Wakil LPPM UGR Lombok Timur dan Putri Masyita sebagai Key Opinion Leader.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Check Also

Jalin Sinergitas, Polda Bali Adakan Pertemuan dengan Biro Hukum dan Ham Provinsi Bali

DENPASAR – Direktorat Intelijen dan Keamanan (Ditintelkam) Polda Bali mengadakan pertemuan dengan Kepala Bagian Bantuan …