Perlu Teladan dan Pendidikan Etika dalam Keluarga di Era Digital

Alor NTT -Gadget dan manusia saat ini seakan tidak bisa dipisahkan. Sebagai gambarannya saat ini rata-rata orang menghabiskan waktu dengan gadgetnya itu sebesar 8 jam 30 menit-an. Waktu ini lebih banyak dibandingkan dengan waktu yang dihabiskan untuk aktivitas lain seperti belajar, menonton TV, membaca berita dan lainnya.
Penetrasi internet yang begitu besar di dunia karena besar pula manfaat yang diberikannya, harus diimbangi dengan sistem keamanan yang kuat. Sebab sedikit kita lalai atau melakukan kesalahan maka akan cepat tersebar dan meluasnya hingga ke seluruh dunia pula.
Dedy Triawan, CTO MEC Indonesia saat menjadi salah satu nara sumber di Webinar Literasi digital wilayah Alor, Nusa Tenggara Timur, Rabu 24 November 2021, bahwa ada banyak celah kesempatan kejahatan siber sehingga kita wajib melindungi diri dalam berinteraksi di dunia digital.
“Selain itu, aktivitas di dunia maya haruslah diimbangi dengan pelaksanaan etikanya. Saat ini penyebab masyarakat kurang beretika dalam kehidupan digital salah satunya karenanya kurangnya literasi,” ujar Dedy dalam webinar yang dipandu oleh Yulian Noor ini.
Selain itu, lanjut Dedy, persoalan lain yang beakibat etika kerap dilupakan di dunia digital adalah kurangnya teladan dan pendidikan etika dalam keluarga maupun lingkungan.
Ditambah lagi dengan hilangnya batas psikologis di dunia maya dibandingkan dengan dunia nyata. Di dunia nyata kita cenderung menghargai orang lain yang kita hadapi atau temui, Tapi di dunia maya rasa itu seakan hilang. “Level kesadaran moralitas akan adat dan budaya serta sopan santun terkikis saat berinteraksi di dunia maya,” imbuhnya lagi.
Lunturnya etika di dunia digital ini juga diakibatkan karena orientasinya hanya berdasarkan hukum dan ketaatan saja dengan kata lain orang beretika karena takut dihukum atau pun hanya ingin dipuji.
Selain itu orientasi lainnya hanyalah untung keuntungan diri sendiri dan kesalingan yaitu, jika kita sopan kita berharap orang lain akan berbuat yang sama dengan diri kita. “Harapan antar pribadi dan keseragaman berlaku etis agar terlihat baik di mata orang serta adanya kewajiban terhadap masyarakat dan sistem sosial,” katanya.
Karenanya sebagai solusinya adalah penting untuk menanamkan nila-nilai etika dalam kurikulum dan menerapkan metode pembelajaran karakter. Hal ini bisa diraih dengan misal saja lewat seminar seminar atau diskusi dan lain sebagainya.
Selain itu perlu juga dibentuk sebuah komite etika berinternet sehingga ada panduannya. Dan hal ini merupakan bentuk dari kontribusi negara untuk menegakkan aturan secara tegas.
Selain Dedy juga hadir pembicara lainnya yaitu Gebryn Benjamin Lead Creator & Marketing Strategy, Samuel H.Kallawaty, S.Sos, M.Sc, Kepala SEksi Infrastruktur Dasar Data Center Disaster Recovery TIK dan Akses Internet, Dinas Komunikasi dan Informatika Alor dan Masra Suyuti sebagai Key Opinion Leader.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Check Also

Peringati Hari Lingkungan Hidup, PLN Icon Plus Gelar Aksi Serentak “Green Employee Involvement” Bersama 2250 Peserta Menuju Masa Depan Berkelanjutan

LOMBOK – Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup, PLN Icon Plus menggelar aksi serentak bertajuk …