Ketahui Tiga Jenis UMKM, Mulai dari yang Beromzet Ratusan Juta Hingga Puluhan Miliar

Papua Barat -UMKM atau Usaha Mikro Kecil Menengah merupaka usaha ekonomi produktif yang dimiliki perorangan maupun badan usaha sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh Undang-undang No. 20 tahun 2008. UMKM umumnya merupakan bisnis yang dijalankan individu, rumah tangga, atau badan usaha ukuran kecil.
Dikatakan oleh Fendi, Founder Superstar Community Indonesia setidaknya terdapat tiga jenis UMKM. Pertama adalah Usaha Mikro yang memiliki omzet Rp300 juta per tahun. Kedua adalah Usaha Kecil yang memiliki omzet Rp300 juta hingga Rp2.5 miliar per tahun. Ketiga adalah Usaha Menengah yang memiliki omzet Rp2.5 miliar hingga Rp50 miliar per tahun.
“Namun survei membuktikan pembinis UMKM di Indonesia, 50 persen atau sekitar 10 juta di antaranya masih berstatus UMKM Mikro,” tambah Fendi saat berbicara dalam acara webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Manokwari, Papua Barat, Selasa (16/11/2021).
Kata Fendi, itulah mengapa pentingnya bagi UMKM untuk terjun ke bisnis digital. Dengan demikian, pelaku bisnis bisa meraup untung lebih besar karena mendapat pasar digital yang cakupannya lebih luas.
“Hal yang paling penting saat ini adalah pelaku UMKM mengikuti arah perubahan bisnis dari offline ke online,” tambah Fendi.
Lebih lanjut, jebolan Indonesia Idol itu membagikan setidaknya tujuh alasan mengapa UMKM mesti go digital. Tujuh alasan tersebut adalah;

  1. Untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Dengan terjun ke market digital, UMKM dapat menembus pasar moder dan pasar tradisional sekaligus.
  2. Meminimalisir hilangnya target pasar. Kata Fendi, kehilangan pasar adalah kecenderungan yang terjadi jika UMKM terlalu nyaman offline. Jika bisnis tidak menyesuaikan zaman, kita harus bersiap berpotensi kehilangan pasar.
  3. Adanya pertumbuhan pengguna internet yang kian pesat. Penggunaan internet yang signifikan terutama setelah peluncuran satelit Palapa membuat angka pengguna internet di Indonesia bertambah.
  4. UMKM menjadi lebih profesional bukan hanya meraup lebih banyak pelanggan tapi juga masuk babak baru dan menjadi lebih profesional.
  5. Biaya operasional yang lebih rendah dan lebih murah karena bisa menekan biaya sewa kios dan tempat yang biasanya bisa sangat memberatkan dan membutuhkan biaya besar.
  6. Budget iklan bisa diatur berdasarkan kebutuhan. Dengan begitu, pemasaran digital bisa dilakukan dan memang dianggap lebih transparan serta akuntable.
  7. Pertumbuhan lebih cepat. Potensi penjualan bisa lebih cepat besar dan meningkat karena menembus batas ruang, waktu dan wilayah.
    Selain Fendi, hadir pula dalam acara webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Manokwari, Papua Barat, Selasa (16/11/2021) Dedy Triawan, CEO MEC Indonesia, Siti J Hindom, aktivis sosial dan Fitriani sebagai key opinion leader.
    Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
    Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Check Also

Peringati Hari Lingkungan Hidup, PLN Icon Plus Gelar Aksi Serentak “Green Employee Involvement” Bersama 2250 Peserta Menuju Masa Depan Berkelanjutan

LOMBOK – Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup, PLN Icon Plus menggelar aksi serentak bertajuk …