Bahaya di Balik Fitur Face Recognition

Boven Digoel Papua -Beberapa waktu lalu terdapat berita mengenai layanan Bandara Soekarno Hatta yang memakai sistem face recognition atau pengenal wajah. Dalam paparan Randy Mandala, seorang Kepala Unit IT RS Anggrek Mas Jakarta, tujuan layanan tersebut untuk meningkatkan keamanan.
Sementara itu, Facebook sebagai salah satu platform media sosial terbesar justru mematikan sistem face recognition. Hal ini karena alasan keamanan dan privasi. Teknologi ini seakan-akan mengandung pro dan kontra karena ada manfaat dan kerugian yang bisa terjadi.
“Secara teori, face recognition sendiri adalah salah satu teknik biometrik. Salah satunya pada saat kita membuat e-KTP ada retina mata, sidik jari, dan wajah,” jelas Randy dalam Webinar Literasi Digital di Kabupaten Boven Digoel, Ppaua, Rabu (17/11/2021).
Ia menjelaskan, face recognition sendiri adalah teknologi yang bisa mencocokkan wajah manusia dari gambar, bingkai foto atau video dengan database yang sudah ada. Ketika datanya cocok maka bisa terautentikasi. Di era ini kita juga sudah sering menggunakannya, seperti pada saat membuka ponsel kita. Namun, face recognition ini bukanlah hal baru. Teknologi ini sudah ada sejak tahun 1960-an, di tahun tersebut terdapat ilmuan dari Amerika Serikat yang menciptakan teknologi tersebut. Di masa itu, gunanya dibuat teknologi face recognition untuk pengoperasian mesin yang dapat mengenali wajahnya. Bedanya, di zaman itu kecepatan deteksi face recognition belum secanggih sekarang ini.
“Bahayanya, face recognition bisa mengakibatkan cyberstalking atau dimata-matai oknum yang punya kepentingan negatif,” ungkap Randy.
Menurutnya, apabila kita menggunakan fitur pengenal wajah ini pada suatu aplikasi yang bersifat penting, seperti perbankan itu masih bisa dikelabui. Sehingga bisa merugikan kita. Bahaya lainnya yang perlu kita waspadai ialah duplikasi wajah menggunakan artificial intelegent, pelanggaran privasi, hingga penjualan data pribadi. Semakin banyak foto kita tersebar, semakin mudah kita dikenali oleh face regocnition. Oleh karena itu, minimalkan penyebaran foto pribadi agar tidak disalahgunakan oleh oknum tidak bertanggung jawab.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Boven Digoel, Papua, Rabu (17/11/2021) juga menghadirkan pembicara, Forita Djadi (Pemilik Dave Wedding Event), Agung Dwi Saputro (Dosen Sistem Informasi FMIPA UNCEN), dan Dhan Geisha (Key Opinion Leader).
Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Check Also

Pantau Kebutuhan Daging saat Idul Adha, Polda Bali Datangi Tempat Pemotongan Hewan

DENPASAR – Personel Direktorat Intelijen dan Keamanan (Ditintelkam) Polda Bali mendatangi salah tempat pemotongan hewan …