Nilai Budaya Dalam Dunia Nyata Harus Dibawa ke Medsos Juga


Manggarai Timur -Indonesia memiliki banyak pengguna media sosial saat ini. Di Indonesia ada jutaan orang bahkan ada ratusan juta masyarakat Indonesia yang aktif di media sosial.
Namun menurut riset Microsoft terkait kesopanan penggunaan internet sepanjang tahun 2020, Indonesia menempati urutan ke 29 dari 32 negara di Asia tenggara.
Kristoforus Aman, Blogger dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, Selasa 16 November 2021 mengatakan bahwa hasil survei yang menyatakan bahwa tingkat kesopanan netizen Indonesia rendah adalah hal yang patut disayangkan di tengah ikon masyarakat Indonesia yang terkenal di seluruh Indonesia sebagai masyarakat ramah.
“Padahal Indonesia itu negara yang berbudaya dan selama ini terkenal di seluruh dunia memiliki tingkat tingkat kesopanan tinggi jadi sudah selayaknya kebudayaan dalam hidup ini dibawa ke media sosial juga” ujar Kristoforus dalam webinar yang dipandu oleh Eddie Bingky ini.
Salah satu indikasi dalam survei Microsoft yang menyatakan netizen Indonesia memiliki tingkat kesopanan yang rendah adalah masih banyaknya konten provokatif dan ujaran kebencian dalam ruang digital. Dirangkum dari laporan bulan April 2020 sampai 2 Juli 2021 yang paling dominan itu kasus kontan provokatif dan ujaran kebencian. Disamping itu ada juga penipuan online, konten porno dan pemalsuan data.
Dengan melihat hal itu maka dibutuhkan etika digital dalam beraktivitas di ruang digital. Sebab etika digital adalah kemampuan individu dalam menyadari, mencontohkan, menyesuaikan diri, mengoperasionalkan, mempertimbangkan dan mengembangkan tata kelola etika digital atau netiquette dalam kehidupan sehari-hari.
Selain keharusan beretika digital di duni digital karena pertimbangan sopan santun nilai ketimuran yang ada di Indonesia, setiap orang harus menyadari akan dampak hukum yang bisa terjadi jika kita tidak menjaga tata krama di ruang digital.
Dampak hukum itu diatur dalam UU ITE Nomor 19 tahun 2016 pasal 27 tentang tindakan asusila penghinaan pencemaran nama baik dan pemerasan.
Serta Pasal 28 tentang berita bohong menyesatkan ujaran kebencian dan permusuhan. Juga Pasal 29 yang mengatur tentang ancaman kekerasan dan perbuatan menakut-nakuti.
Selain Kristoforus juga hadir pembicara lainnya yaitu Nur Rahma Yenita, Ketua Program Studi Teknik Elektro STTi Jakarta dan Asesor Kompetensi Multimedia BNSP, Sofia Sari Dewi, Fashion Designer dan Digital Content Creator dan Ichal Muhammad sebagai Key Opinion Leader.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Check Also

Peringati Hari Lingkungan Hidup, PLN Icon Plus Gelar Aksi Serentak “Green Employee Involvement” Bersama 2250 Peserta Menuju Masa Depan Berkelanjutan

LOMBOK – Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup, PLN Icon Plus menggelar aksi serentak bertajuk …