Minim Akses, Pelajar Indonesia yang Tinggal di Kawasan 3T Kesulitan Belajar Daring

Ngada NTT -Pelajar dan mahasiswa Indonesia yang tinggal di wilayah 3T umumnya mengalami kesulitan melakukan proses belajar mengajar daring atau belajar online selama pandemi Covid-19.vKawasan atau daerah 3T sendiri merupakan daerah tertinggal, terdepan dan terluar di Indonesia.
Dikatakan oleh Nur Rahma Yenita, Ketua Program Studi Teknik Elektro STTI Jakarta dan Asesor Kompetensi Multimedia BNSP, pandemi Covid-19 telah menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa dan pelajar Indonesia selama proses belajar daring.
“Ini menjadi tantangan tersendiri bagi teman-teman kita terutama yang tinggal di kawasan 3T. Mereka berjuang mencari spot yah ada sinyal. Ini masalah yang harus segera diselesaikan,” kata Nur Rahma Yenita saat berbicara dalam acara webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021, wilayah Ngada, Nusa Tenggara Timur, Jumat (12/11/2021).
Akibat keterbatasan infrastuktur tersebut, ia menyebut ada saja pelajar atau mahasiswa yang terpaksa tidak masuk sekolah atau kuliah. Menurut data, tercatat ada 27.5 juta siswa dan 124 ribu mahasiswa Indonesia yang tinggal di kawasan 3T.
Untuk itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makariem mengeluarkan Surat Edaran Mendikbud Nomor 4 Tahun 2020. Surat tersebut berbunyi;

  1. Memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa, tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum kenaikan kelas maupun kelulusan.
  2. Memfokuskan pada pendidikan kecakapan hidup antara lain mengenai pandemi Covid-19.
  3. Memberikan variasi aktivitas dan tugas pembelajaran belajar dari rumah antarsiswa, sesuai minat dan kondisi masing-masing, termasuk mempertimbangkan kesenjangan akses/fasilitas belajar dari rumah.
  4. Memberikan umpan balik terhadap bukti atau produk aktivitas belajar dari rumah yang bersifat kualitatif dan berguna bagi guru, tanpa diharuskan memberi skor/nilai kualitatif.
    “Kemendikbud juga memberikan anggaran daerah 3T lebih besar daripada di daerah kota,” pungkas Nur Rahma Yenita.
    Selain Ketua Program Studi Teknik Elektro STTI Jakarta dan Asesor Kompetensi Multimedia BNSP Nur Rahma Yenita, hadir pula dalam acara webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021, wilayah Ngada, Nusa Tenggara Timur, Jumat (12/11/2021) yaitu Ilham Faris, Digital Strategist & National Facilitator, Silverius Betu, Ketua Pengurus Yayasan Persekolahan Umat Katolik Ngada (YASUKDA) dan Fisca sebagai key opinion leader.
    Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
    Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Check Also

Peringati Hari Lingkungan Hidup, PLN Icon Plus Gelar Aksi Serentak “Green Employee Involvement” Bersama 2250 Peserta Menuju Masa Depan Berkelanjutan

LOMBOK – Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup, PLN Icon Plus menggelar aksi serentak bertajuk …