Hati-hati di Internet, Ini Beberapa Hal yang Bisa

Intan Jaya -Membuat Kita Jadi Korban Perundungan Digital
Perundungan digital atau cyberbullying bisa terjadi karena berbagai faktor, salah satunya keteledoran diri sendiri di media sosial. Hal tersebut dikatakan oleh Gabrillianty Nastiti Ayuningtyas, Spv Accounting Analist.
Berbicara dalam acara webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Intan Jaya, Papua, Jumat (13/11/2021) cyberbullying merupakan perilaku berulang yang ditunjukan untuk menakuti, membuat marah, atau mempermalukan mereka yang menjadi sasaran.
Salah satu perilaku yang mengundang tindakan perundungan digital atau cyberbullying adalah, tidak memfilter unggahan di media sosial.
“Korban perundungan bisa saja tidak memfilter postingan kehidupan pribadi yang bisa jadi dapat menjadi objek perundungan. Maka dari itu penting mengatur privasi,” kata Nastiti.
Pengguna media sosial juga perlu menghindari mengunggap informasi pribadi. Meski dalam beberapa kasus bermanfaat, nama lengkap, alamat rumah, email, hingga nomor telepon bisa memudahkan orang lain termasuk orang berniat jahat untuk menghubungi kita.
Untuk itu penting melakukan pengaturan privasi termasuk menyortir siapa saja yang berhak dan bisa mengikuti akun kita di media sosial
“Pengaturan privasi ini dapat membantu mencegah cuberbully walau di media sosial, sudah tidak ada informasi yang benar-benar privat. Atur siapa saja ya g bisa melihat akun kita, jadi tidak semua lora g bisa melihat apa yang kita posting,” tambahnya.
Lebih lanjut, Nastiti juga menjabarkan mengenai tujuh jenis cyberbullying atau perundungan online. Tujuh jenis cyberbullying itu adalah;

  1. Flaming: mengirimkan pesan teks yang isinya merupakan kata-kata penuh amarah dan frontal.
  2. Harassment: pesan-pesan yang berisi ganguan pada email, sms, maupun pesan teks di jejaring sosial, dilakukan secara terus-menerus.
  3. Cyberstalking: mengganggu dan mencemarkan nama baik seseorang secara intens sehingga membuat ketakutan besar pada individu tersebut.
  4. Denigration proses mengumbar keburukan seseorang di internet dengan maksud merusak reputasi dan nama baik orang tersebut.
  5. Impersonation : berpura-pura menjadi orang lain dan mengirimkan pesan-pesan atau status yang tidak baik.
  6. Outing & Trickery: Outing yaitu menyebarkan rahasia orang lain, atau foto-foto pribadi orang lain, sedangkan trickery membujuk seseorang dengan tipu daya agar mendapatkan rahasia atau foto pribadi orang tersebut.
  7. Exclusion: secara sengaja dan kejam mengeluarkan seseorang dari grup online.
    Selain Gabrillianty Nastiti Ayuningtyas, Spv Accounting Analist, hadir pula dalam acara webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Intan Jaya, Papua, Kamis (13/11/2021) yaitu Grace M Moulina, Head of Marketing Communications Financial Company,Margaretha Selan, Dokter Gigi dan Ichal Muhammad sebagai key opinion leader.
    Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
    Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Check Also

Jalin Sinergitas, Polda Bali Adakan Pertemuan dengan Biro Hukum dan Ham Provinsi Bali

DENPASAR – Direktorat Intelijen dan Keamanan (Ditintelkam) Polda Bali mengadakan pertemuan dengan Kepala Bagian Bantuan …