Generasi Milenial Perlu Memiliki Jiwa Kepemimpinan

Lombok Tengah NTB -Hasil sensus penduduk 2020 yang dilakukan Badan Pusat Statistik mencatat bahwa generasi milenial yang lahir antara tahun 1981-1996 mencapai 69,38 juta jiwa atau 25,87% dari total populasi. Sementara itu, generasi milenial yang kini tengah berada di usia produktif mendominasi jumlah populasi di dalam sebuah organisasi dan institusi.
Dengan jumlah yang sangat signifikan ini sungguh wajar jika perhatian dicurahkan kepada mereka, karena mereka inilah yang secara konsisten mengimplementasikan semua kebijakan dan strategi perusahaan. Lebih penting lagi mereka adalah generasi penerus kepemimpinan korporasi, bahkan Indonesia.
Untuk itu, Zulfikri, S.Pd, CEO Nathan Indonesia Lombok dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Jumat 12 November 2021, mengatakan sebagai calon pemimpin masa depan, generasi milenial perlu memiliki karakter dan jiwa kepemimpinan.
“Sebab masa muda adalah fase keemasan buat kita karena di masa muda inilah menjadi penentu, kita mau membentuk diri kita sebenarnya seperti apa. Kita mau biasa-biasa saja atau kita mau menjadi harapan bangsa yang akan datang,” ujar pria yang akrab disapa Zul dalam Webinar yang dipandu oleh Kika Ferdind ini.
Zul mengingatkan bahwa pemimpin itu bukan tentang jabatan saja. Seorang pemimpin harus lincah dan gercep yang memiliki sejumlah karakter.
“Karakter-karakter itu di antaranya adalah yang memiliki karakter digital mindset, aktif dalam mendengarkan, cerdas melihat peluang, inklusif atau menerima ide ide dari beberapa kalangan dan berani beda dan pantang menyerah,” ujar Zul lagi.
Selain calon pemimpin, generasi milenial juga berperan sebagai agent of change atau agen perubahan yang memiliki visi dan misi yang jernih. Sementara peran generasi milenial di bidang pendidikan adalah untuk berbagi ilmu dan wawasan yang kita peroleh. Ilmu bukan untuk diri kita sendiri tapi berbagi dan memiliki dampak untuk orang banyak.
“Jika kita punya visi maka tuangkan dalam misi. Generasi milenial juga tak boleh malas dan harus melangkah maju dan bergerak cepat jangan mau ketinggalan zaman,” imbuhnya.
Untuk itu adalah dalam visi dan misi belajar di bidang pendidikan adalah pemahaman bahwa kuliah bukan untuk dirinya sendiri tapi untuk kebermanfaatan untuk orang banyak.
“Ilmu kita harus punya dampak apa yang kita bisa tularkan apa yang bisa kita teladani untuk orang banyak itu. Dan itulah tugas genarasi milenial yang seharusnya kita lakukan,” bebernya.
Lebih baik tahu sedikit dan kita sampaikan kepada orang lain sesuatu ilmu yang berguna. Daripada banyak tahu tapi tidak kita sampaikan kepada orang lain.
Terkait dengan hak ini ada tantangan untuk generasi milenial yaitu penguasaan teknologi dengan baik yaitu tantangan memanfaatkan teknologi. Juga tantangan di dunia kerja dan kompetensi dalam artian harus flexible kreatif dan menantang.
Selain Zul juga hadir pembicara lainnya yaitu Andrew Paulo, Forex Trader, Forita Djadi Pemilik Deva Wedding & Event dan Putri Langi sebagai Key Opinion Leader.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Check Also

Jalin Sinergitas, Polda Bali Adakan Pertemuan dengan Biro Hukum dan Ham Provinsi Bali

DENPASAR – Direktorat Intelijen dan Keamanan (Ditintelkam) Polda Bali mengadakan pertemuan dengan Kepala Bagian Bantuan …