Sering Dilupakan, Ini Pentingnya Pakai Etika Digital

Pegunungan Bintang Papua: Etika sehari-hari di dunia nyata harus tetap diterapkan di dunia digital. Meski tidak bertemu secara langsung, etika seperti sopan santun tetap harus diterapkan saat berinteraksi di dunia maya.
Saat berkomunikasi, kita harus menggunakan bahasa yang baik dan mudah dipahami. Kita bisa membedakan dengan siapa berinteraksi dan menyesuaikannya, seperti dengan orang tua, atasan, teman sebaya, dan lain sebagainya.
“Kita harus pakai bahasa yang sopan, tahu tata kramanya, penggunaan bahasa yang baik dan benarnya seperti apa. Jangan disamaratakan setiap individunya. Sama juga dengan menyesuaikan latar belakang lawan interaksi kita,” ujar Putri Masyita sebagai key opinion leader dalam Webinar Literasi Digital di Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua, Kamis (11/11/2021).
Model ketikan kita juga berpengaruh saat berkomunikasi di ruang digital. Penempatan huruf besar dan tanda baca bisa mempengaruhi interpretasi orang. Misalnya, ketika kita menulis pakai capslock dan tanda seru bisa membuat orang yang menerima pesan menafsirkan bahwa kita sedang marah. Jadi, kita juga harus memahami cara penulisan yang baik dan benar agar lawan bicaranya mengerti.
Etika lainnya, jangan mencaci orang lain di media sosial. Terkadang kita merasa di ruang maya ini bebas untuk berekspresi apapun. Bahkan, masih banyak orang yang tidak bisa membedakan mana kritik dan hujatan yang menyakiti hati orang lain. Menurut Putri, di ruang digital sangat boleh bagi kita untuk kontra terhadap pendapat orang lain. Akan tetapi, jangan sembarangan memberikan kata kasar kepada orang lain meski mengguanakan akun anonim.
“Sekarang itu apapun bisa di tracking, lokasi kita bisa ketahuan. Ada juga aturan UU ITE. Kalau orang lain itu tersinggung dengan ucapan kita di medsos, maka bisa dituntut dan kena pasal. Bisa jadi bumerang bagi kita yang akhirnya merugikan diri kita sendiri,” jelas Putri.
Jangan juga umbar-umbar data pribadi di ruang digital. Selain tidak etis, aktivitas ini dapat memancing kejahatan digital dan hal-hal negatif. Makanya, hal-hal yang terlalu detail dan sifatnya terlalu intim sebaiknya tidak diunggah di media sosial. Hal-hal pribadi seperti curhatan pun sebaiknya tidak diumbar dengan mudah di media sosial. Kalau mau posting harus dipikir terlebih dahulu dampak-dampaknya bagi kita dan orang lain yang melihat.
Putri menyampaikan, penting untuk kita posting-posting hal positif sesuai etika. Sebab hal tersebut akan menjadi image kita di masa depan nanti.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua, Kamis (11/11/2021) juga menghadirkan pembicara, Dedy Triawan (CEO MEC Indonesia), Cenuk Sayekti (Peneliti dan Dosen), dan Mayko E Koibur (Mahasiswa S3 – Kindai University Fukoka).
Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Check Also

Peringati Hari Lingkungan Hidup, PLN Icon Plus Gelar Aksi Serentak “Green Employee Involvement” Bersama 2250 Peserta Menuju Masa Depan Berkelanjutan

LOMBOK – Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup, PLN Icon Plus menggelar aksi serentak bertajuk …