Memahami Aturan Bertransaksi di Dunia Digital

Maluku Tengah -Transaksi digital adalah keniscayaan yang tidak dapat dihindari di tengah derasnya laju inovasi teknologi. Gaya hidup masyarakat juga sudah berubah dan membutuhkan kecepatan dan efisiensi saat bertransaksi. Apalagi di masa pandemi COVID-19 yang membuat ruang gerak masyarakat semakin terbatas namun harus tetap bertransaksi.
Bank Indonesia (BI) mencermati transaksi ekonomi dan keuangan digital pada Agustus 2021 terus meningkat sejalan dengan akseptasi dan preferensi masyarakat untuk berbelanja daring. Pertumbuhan tersebut terutama tercermin pada nilai transaksi uang elektronik dan digital banking.
Menurut catatan BI, nilai transaksi Uang Elektronik (UE) pada bulan Mei 2021 mencapai Rp23,7 triliun, atau meningkat 57,38% (yoy). Di samping itu, volume transaksi digital banking juga terus tumbuh dan tercatat meningkat hingga 56,49% (yoy), atau mencapai 601,2 juta transaksi pada Mei 2021 dengan nilai transaksi yang tumbuh 66,41% (yoy) sebesar Rp3.117,4 triliun.
“Pertumbuhan ini perlu dibarengi dengan pemahaman aturan dan cara penggunaan transaksi digital yang aman,” kata Inda Ulfa Mansyur, Ketua PKC PMII Maluku dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, Selasa 9 November 2021.
Untuk menghindari kejahatan digital, Ulfa membeberkan sejumlah langkah yang perlu dipahami para pengguna internet banking. Langkah pertama adalah pengguna harus memastikan bahwa penyedia layanan terdaftar resmi di Otoritas Jasa Keuangan.
“Hindari mengakses aplikasi dari penyedia layanan yang tidak resmi agar data kita tidak digunakan secara sembarangan dan mencegah hal-hal buruk lainnya,” tambah Ulfa.
Selanjutnya, pengguna perlu membaca dengan cermat syarat dan ketentuan yang diberlakukan oleh penyedia layanan transaksi digital. Pengguna juga perlu memastikan kunci pengaman (password) dan OTP tidak diberikan kepada orang lain.
“Nah, agar terjerat pinjaman online, pengguna tidak boleh memiliki banyak akun. Misalnya, pengguna meminjam uang di salah satu fintech lalu uang tersebut untuk membayar utang di fintech lainnya,” katanya.
Dengan segala kemudahan bertransaksi digital, Ulfa mengharapkan para pengguna tidak menghabiskan uangnya untuk melakukan belanja online. “Alokasikan dana maksimal 20% dari penghasilan untuk menabung,” ujarnya.
Selain Inda, pembicara lain adalah Nur Rahma Yenita, Ketua Program Studi Teknik Elektro STTI dan Asesor Kompetensi Multimedia BNSP, Ilham Faris Digital Strategist & National Facilitator dan Vizza Dara sebagai Key Opinion Leader.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Check Also

Pantau Kebutuhan Daging saat Idul Adha, Polda Bali Datangi Tempat Pemotongan Hewan

DENPASAR – Personel Direktorat Intelijen dan Keamanan (Ditintelkam) Polda Bali mendatangi salah tempat pemotongan hewan …