Cara Menyikapi Komen Julid di Medsos ala Influencer

Timor Tengah Selatan -Kebebasan berekspresi di media sosial bisa kita lihat tak hanya dari unggahan beragam konten saja tetapi juga dari hebohnya komentar para netizen.
Saat ini bahkan kolom komentar kerap menjadi sumber pertikaian di medsos yang tak jarang berujung pada pertikaian di dunia nyata bahkan hingga ke ranah hukum. Sebab meski banyak orang bisa menghandle beragam komentar julid para netizen, tak jarang juga yang sangat emosional menghadapinya.
Menurut seorang influencer yang juga artis sinetron Reza Aditya dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, Selasa 9 November 2021, baik postingan atau komentar positif juga negatif di medsos harus disikapi dengan bijak.
“Tidak perlu diseriusi apapun komen julid yang ada di sosmed. Anggap saja dunia medsos itu tidak real dan jangan bawa perasaan,” ujar Reza dalam webinar yang dipandu oleh Tony Thamrin ini.
Ia juga mengakui bahwa saat ini banyak netizen mengungkapkan kebebasan berekspresi dan beropini di medsos dan sebagai influencer pernah mendapati komentar beragam komentar termasuk komen julid yang bisa menjatuhkan mental.
Agar tidak terpengaruh oleh hal – hal negatif tersebut termasuk komen julid, Reza mengaku langsung menghapusnya. “Ketika komen itu julid saya langsung delete itu bukan menjadi masalah besar untuk saya karena saya enggak kenal juga sama orang itu,” jelas Reza lagi.
Reza juga mengatakan bahwa ia menganggap komen komen julid tidak membawa pengaruh baik untuk dirinya. “Saya lebih penting untuk nothing to lose saja dan saya nggak mau baperan. Kalau kita bawa perasaan ya sudah habis,” tegasnya.
Hal yang sama juga dikatakan oleh Fajar Sidik, Zinester & Podcaster at 30degree Media Network, bahwa jika dicermati memang ada banyak komentar-komentar di medsos semisal tik tok dan Instagram negatif. Dan jika yang berkomentar itu kita kenal atau teman kita sendiri, sebaiknya kita bisa menegurnya.
“Tergantung kita bagaimana kita melihat hal tersebut sehingga kita bisa mengingatkan orang yang berkomentar negatif kalau itu tidak bagus. Atau ingatkan juga bahwa komentar komentar negatif itu bisa dikenakan hukuman jika komentar kita menyinggung perasaan orang lain,” ujar Fajar.
Selain itu, kata Fajar, apalagi jika sampai komentar itu menebar ketakutan atau mengancam. Hal itu tidak boleh karena berlakulah dengan baik di media sosial. Kalau misal kita menemukan konten-konten negatif jangan kita abaikan saja.
“Jika ada komentar jelek jelek abaikan saja dan jangan berkomentar yang jelek. Karena mereka yang upload konten-konten itu akan senang kalau kita berkomentar.”
Selain Fajar dan Reza juga hadir pembicara lain yaitu Yoseph Sesfaot Kepala SDK Yaswari Se V dan Alex Iskandar, MBA, Managing Director.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Check Also

Pantau Kebutuhan Daging saat Idul Adha, Polda Bali Datangi Tempat Pemotongan Hewan

DENPASAR – Personel Direktorat Intelijen dan Keamanan (Ditintelkam) Polda Bali mendatangi salah tempat pemotongan hewan …