Pentingnya Rencana Kontingensi Terorime Untuk Bali Tangguh Bencana

Denpasar -Ada 14 potensi bencana yang perlu diantisipasi di Bali sesuai hasil analisis bahaya yang dikeluarkan BNPB pada tahu 2020. Dengan ini Bali termasuk sebagai salah satu daerah dengan risiko tinggi terhadap bencana berdasarkan hasil kajian risiko,

Bali selain rawan dengan bencana yang disebabkan oleh faktor alam dan non alam, juga sangat rawan dengan bencana yang disebabkan oleh faktor manusia seperti ancaman terorisme.

Dan salah satu upaya mitigasi dan kesiapsiagaan yang dapat dilakukan dalam menghadapi ancaman bencana terorisme adalah menyusun rencana kontingensi terorisme Provinsi Bali.

Hal itu dikatakan Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Provinsi Bali, Drs.I Made Rentin, AP.MSi saat membacakan sambutan Sekda Provinsi Bali Dewa Made Indra, di acara pembukaan Uji Publik Finalisasi Penyusunan Rencana Kontingensi Terorisme Provinsi Bali yang digelar di Prime Plaza Sanur Denpasar, Rabu 3 November 2021.

“Salah satu upaya mitigasi dan kesiapsiagaan yang dapat dilakukan dalam menghadapi ancaman bencana terorisme adalah menyusun rencana kontingensi,” ujar I Made Rentin yang juga menghadirkan narasumber I Gede Sudiartha, S.Sos, M.Si, Kelompok Ahli Gubernur Bidang Khusus Mitigasi dan Pengurangan Risiko Bencana dan Carl Daniels Deputi Senior Responbilitiy dari J E S I P secara daring dari London UK.

Lebih lanjut, kata Rentin dengan adanya rencana rencana kontingensi harapannya pada situasi darurat, para pemangku kepentingan yang ada di Provins Bali dapat mengetahui peran, tugas dan fungsi mereka masing-masing dalam melakukan kegiatan tanggap darurat sehingga dapat memberikan respon yang cepat, terpadu dan terkodinir dengan baik.

Sementara itu dalam acara yang digelar oleh BPBD Provinsi Bali bekerja sama dengan JCLEC (Jakarta Centre for Law Enforcement Cooperation) dan Pemerintah Inggris ini Gede Sudiartha yang juga menjadi Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Bali mengatakan bahwa Bali dipandang perlu mengantisipasi ancaman bencana oleh ulah manusia, seperti teroris. sehingga penyusunan Kontingensi ini dianggap perlu.

“Acuan bersama selanjutnya akan disinergikan bersama karena disusun oleh semua unit. Dan dokumen ini akan selesai menjelang dilaksanakannya Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) tahun 2022 dan kita akan menunjukan kepada dunia bahwa Bali aman terhadap bencana termasuk bencana terorisme,” ujar Gede Sudiartha.

Senada dengan Gedhe, Carl Daniels mengatakan pentingnya kerjasama dalam menangani bencana termasuk terorisme. Dikatakannya bahwa, tidak ada solusi tunggal dan yang bisa dilakukan adalah melatih personil sehingga siap dalam kebencanaan.

“Kami ingin melakukan operasi bersama yang efisien dan efktif dengan mengembangkan dan menggunakan sistem yang sama adalah hal yang penting untuk mencapai kerja sama yang efektif. Dan hal ini terkait dengan kemampuan untuk saling mengisi kekurangan bukannya saling menggantikan,” jelas Carl.

Menurutnya juga, ada hal yang perlu bersama-sama untuk dipahami tentang prinsip bekerja sama dan kesadaran situasi dalam pengambilan keputusan,
Selain itu juga harus dipahami risiko bencana dan meniliai risiko bencana jika terjadi bencana alam atau non alam.

“Kerja sama membutuhkan sistem yang umum dan standar yang sesuai, pelatihan dan praktik akan meningkatkan kepercayaan diri, kita bisa melakukannya dan bisa juga gagal dan harus bekerja sama serta kerja tim,” tandasnya. (***)

Check Also

Kanwil Kemenkumham Bali Gelar Rapat Evaluasi, Komitmen Raih Predikat WBBM

DENPASAR – Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) Bali menggelar Rapat Evaluasi …