Ingin Jadi Konten Kreator Digital? Ini 4 Tantangan yang Perlu Anda Hadapi Saat Ini

Halmahera Selatan -Perkembangan teknologi membuat konten digital semakin banyak peminat. Alhasil, pekerjaan sebagai konten kreator digital pun populer dan diidolai banyak orang.
Namun menurut praktisi komunikasi Arie Erffandy, ada sejumlah tantangan yang hingga kini masih dihadapi oleh para kreator konten digital. Apa itu?
“Saat ini etika menghargai terutama karya dan konten orang lain di media sosial masyarakat Indonesia belum sebaik di negara maju. Jadi teman-teman yang ingin jadi konten kreator harus siap dengan tantangan ini,” paparnya dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021, wilayah Halmahera Selatan, Maluku Utara, Kamis 4 November 2021.
Arie mengatakan setidaknya ada 4 masalah dan tantangan yang bisa membuat konten kreator sulit mengembangkan karya.
Pertama, adalah tidak sedikit masyarakat yang apatis terhadap karya-karya digital. Ini terlihat dari masih banyaknya komentar negatif yang muncul ketika seseorang mengunggah konten buatannya.
“Misalnya konten gambar atau lukisan. Masih ada tuh yang suka komentar ‘ah gini mah gampang, kok gambarnya jelek, anak SD juga bisa’ dan lain-lain. Ini kan bukan bentuk dukungan yang baik bagi pembuat karya ya,” papar Arie.
Kedua, bullying yang mungkin bisa diterima oleh para konten kreator. Bullying bisa terjadi karena konten dirasa kurang cocok atau karena adanya sabotase dari orang lain.
“Bikin video niatnya edukasi, tapi dipotong-potong dan ditampilkan seolah kita menghujat. Nah ini kan bukan sekali dua kali kejadian. Dan ternyata dilakukan oleh orang lain yang merasa iri,” paparnya lagi.
Ketiga, adalah plagiarisme alias pembajakan terhadap konten. Saat ini plagiarisme masih dianggap hal lumrah oleh sebagian masyarakat Indonesia, meskipun sudah ada undang-undang yang melarangnya.
“Yang paling parah ketika plagiarisme dilakukan untuk mencari keuntungan pribadi. Misalnya, mengakui karya orang lain sebagai karyanya, lalu dijual. Kan ini sangat merugikan pembuat karya asli,” terangnya.
Terakhir adalah pemboikotan yang dilakukan oleh orang lain. Pemboikotan ini biasanya terjadi karena kesalahpahaman antara pembuat karya dengan masyarakat yang merasa tersinggung.
“Cuma kadang kan viral dulu, ramai dulu, baru ternyata ketahuan bahwa itu salah paham. Sayangnya yang seperti ini masih sering kita temui,” ujar Arie lagi.
Dalam webinar ini hadir juga Sofia Sari Dewi (Fashion Designer dan Clozette Ambassador), Fajar Sidik (Zinester dan podcaster at 30degree media network), dan Vizza Dara (key opinion leader).
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Check Also

Peringati Hari Lingkungan Hidup, PLN Icon Plus Gelar Aksi Serentak “Green Employee Involvement” Bersama 2250 Peserta Menuju Masa Depan Berkelanjutan

LOMBOK – Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup, PLN Icon Plus menggelar aksi serentak bertajuk …