Suasana Belajar yang Monoton Bisa Jadi Penyebab Kejenuhan Belajar Anak Didik

Karangasem -Dengan kemajuan teknologi digital yang semakin canggih saat ini, metode pembelajaran pun menjadi semakin variatif. Untuk itu dibutuhkan skill yang selalu harus diupdate terkait teknologi digital terutama untuk seorang guru di zaman sekarang.
Menurut I Wayan Eka Dian Rahmanu, S.Pd, MPd, Dosen Politeknik Negeri Bali dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Karangasem, Bali, Selasa 2 November 2021, kreativitas seorang pendidik di era digital dibutuhkan agar anak didik tak jenuh belajar.
“Ada sejumlah sebab yang melatarbelakangi terjadinya kejenuhan belajar diantaranya adalah cara atau metode belajar yang tidak bervariasi,” ujar Eka Dian dalam weibanar yang dipandu oleh Tony Thamrin ini.
Lebih lanjut, jelas Eka, penyebab lainnya adalah belajar hanya di tempat tertentu, suasana belajar yang tidak berubah-ubah serta adanya ketegangan mental kuat dan berlarut-larut pada saat belajar.
Sementara menurut pendapat pakar lainnya, kejenuhan ini bisa terjadi karena kurang adanya kontrol atas pekerjaan yang dilakukan oleh individu.Serta adanya breakdown of community atau kurang adanya dukungan dari lingkungan seperti hubungan interpersonal antara individu yang satu dengan yang lain tidak terjalin dengan baik.
“Juga karena tidak adanya chemistry apa yang dijelaskan oleh guru kepada siswa itu tidak akan tersalurkan dengan baik,” jelasnya lagi.
Soal durasi lamanya belajar juga harus dipertimbangkan karena jika ketika memberi sesuatu yang di luar konteks dan over time itu akan memberikan kejenuhan pada siswa kita. Ditambah juga adanya konflik semisal kita memberikan ide tidak adanya suatu kecocokan atau tidak adanya suatu kesepakatan.
Selain itu persoalan feedback juga harus diperhitungkan juga sebab feedback ini sangat penting untuk setiap orang ketika kita berorganisasi misalnya feedback untuk memberikan suatu masukan terhadap orang lain itu akan sangat penting.
Tapi feedback ini diberikan masukan yang membangun karena ketika tidak ada feedback tidak ada penilaian. “Secanggih apapun teknologi kalau misalnya dilakukan secara monoton akan memberikan kejenuhan,” bebernya lagi.
Dikatakannya juga bahwa anak didik memerlukan multimodel approach yaitu Visual, Auditory, Read and write dan Kinesthetic. Untuk itu diperlukan guru yang memiliki ketrampilan digital dan kreativitas. “Perlu sistem dengan guru expert atau guru yang memiliki akses internet yang bisa menyiapkan beberapa materi pembelajaran tentunya yang bisa digunakan nantinya di daerah yang bisa dinikmati oleh siswa-siswa,” bebernya lagi.
Karena ilmu yang dapat diterima dengan baik oleh pelajar atau mahasiswa maka akan sangat bermanfaat. Karena sebagus apapun materi yang kita berikan ataupun oleh orang-orang tapi kalau tidak bermanfaat maka akan percuma atau mubazir.
Selain Wayan Eka juga hadir pembicara lainnya yaitu Yazid Yanwar, Founder Meraki Agency, Astried Kirana, Managing Director PT Astrindo Sentosa Kusuma dan Adelita sebagai Key Opinion Leader.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Check Also

Peringati Hari Lingkungan Hidup, PLN Icon Plus Gelar Aksi Serentak “Green Employee Involvement” Bersama 2250 Peserta Menuju Masa Depan Berkelanjutan

LOMBOK – Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup, PLN Icon Plus menggelar aksi serentak bertajuk …