Dampak Kejahatan Siber di Dunia Maya Juga Sampai ke Dunia Nyata

Manggarai Timur -Kriminalitas pada dunia maya dikenal dengan istilah kejahatan siber atau cybercrime. Dalam hukum siber, cyber crime itu didefinisikan sebagai kejahatan yang dilakukan menggunakan teknologi komputer baik sebagai objek maupun sebagai fasilitas.
Menurut Chyntia Andarinie, Founder Mom Influencer dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, Selasa 2 November 2021, walaupun kejahatan ini terjadi di dunia maya di dunia virtual tapi dampaknya itu bisa sampai di kehidupan kita di dunia nyata.
“Meski disebut kejahatan di dunia maya tapi dampaknya juga sangat mempengaruhi dunia nyata korban maupun pelakunya. Jadi kita semua wajib melindungi diri sendiri dan orang-orang terdekat juga lingkungan dari kejahatan siber,” ujar Chyntia dalam webinar yang dipandu oleh Idfi Pancani ini.
Dikatakan Chyntia, seharusnya para peserta literasi digital semuanya bisa semakin bijak setelah mengikuti webinar hari ini dengan mendengarkan paparan dari narasumber yang akan mendapatkan insight-insight untuk melindungi diri sendiri dari kejahatan cyber.
Dijelaskannya juga pada tahun 2019-2020 kejahatan siber yang sudah terjadi di Indonesia ini sudah cukup marak. “Yang paling banyak adalah penipuan online, dari data yang disajikan bahwa penipuan online memang di peringkat pertama diikuti oleh pornografi dan lain-lain,” katanya lagi.
Ada beberapa jenis kejahatan siber yaitu:
1.Phising
Upaya penipu untuk menipu agar korban memberikan informasi pribadi seperti nomor rekening bank kata sandi dan nomor kartu kredit. Kita harus pikirkan jangan gegabah terhadap informasi Jangan hanya membaca judulnya saja.
2.Malware
Malware seringkali dilakukan melalui berbagai virus yang akan masuk ke komputer dan dapat mencuri detail kartu kredit dan informasi pribadi lainnya. Kalau dapat notif di dalam laptop misalnya kenapa-kenapa cek dulu jangan sampai membawa malapetaka buat kita. Jadi jangan sampai kita membuat file sebuah virus yang membahayakan data-data kita.
3.Peretasan
Secara sederhana peretas adalah penyusup yang mengakses sistem komputer tanpa izin. Jadi kalau teman-teman pernah melihat ada akun-akun mencurigakan dengan profil bukan dirinya yang sebenarnya. Sebab bukan mereka yang mengetik bahkan mengupload foto tersebut tetapi akunnya itu telah dibobol oleh orang lain itu adalah proses peretasan. Ini dilakukan hacker jahat atau cracker yang sudah berpengalaman.

  1. Cyberstalking
    Tindakan memata-matai yang mengganggu dan pencemaran nama baik terhadap seseorang yang dilakukan secara intens. Aktivitas ini juga sangat berbahaya karena ini menyangkut privasi orang lain memata-matai dan menimbulkan rasa tidak nyaman.
    Kita bisa melaporkan tersebut dan bisa terseret UU ITE sehingga skita harus hati-hati menggunakan platform apapun itu media sosial semisal Twitter Facebook kita harus istilahnya memfilter mana yang sebaiknya kita unggah mana yang sebaiknya tidak usah kita unggah. Tidak usah ikut-ikutan kita sekedar tahu aja beritanya tidak usah ikutan ngomporin atau ikut menyebarkan karena bisa terkena kasus hate speech.
  2. Impersonation
    Tindakan berpura-pura atau menyamar menjadi orang lain untuk melancarkan aksinya. cari akunnya sini nih misalnya orang yang membuat akun yang berada persis dengan akun riil nya seperti mungkin artis-artis terkenal.
  3. Outing & Trickery
    Outing merupakan tindakan menyebarkan rahasia orang chat WhatsApp juga berupa tipu daya yang dilakukan dengan memuji orang lain untuk memperoleh rahasia.
    Selain Chyntia juga hadir pembicara lainnya yaitu Shella Nadia, owner Artifashion, Aleksius Frederikus Jumpar, Guru dan Putri Masyita sebagai Key Opinion Leader.
    Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
    Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Check Also

Pantau Kebutuhan Daging saat Idul Adha, Polda Bali Datangi Tempat Pemotongan Hewan

DENPASAR – Personel Direktorat Intelijen dan Keamanan (Ditintelkam) Polda Bali mendatangi salah tempat pemotongan hewan …