Ketahui 3 Prinsip Demokrasi Digital di Dunia Maya

Mappi Papua -Kemajuan teknologi dan internet membawa nuansa tersendiri bagi proses demokreasi suatu negara. Seperti diketahui, demokrasi sendiri punya arti suatu sistem pemerintahan yang diselenggarakan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.
“Artinya, rakyat adalah pemegang kekuasaan tertinggi dalam suatu pemerintahan, dimana masing masing dari mereka memiliki hak yang sama dalam upaya mengatur kebijakan pemerintahan,” ujar Nur Rahma Yenita, Ketua Program Studi Teknik Elektro STTI dan Asesor Kompetensi Multimedia BNSP, dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Mappi, Papua, Senin, (1/11/2021).
Rahma menjelaskan, bahwa dalam konteks demokrasi digital, punya pengertian tersendiri. Ia mengatakan bahwa secara harfiah pengertian demokrasi digital dapat dipahami sebagai implementasi demokrasi yang tidak terkungkung pada limitasi ruang, waktu, ataupun batasan fisik lainnya.
“Demokrasi digital menggabungkan konsep demokrasi perwakilan dan demokrasi partisipatif sehingga mampu mengeksplorasi dengan cepat interaksi antara dunia maya dan sosial,” kata Nur Rahma.
Nur Rahma juga memaparkan bahwa setidaknya ada tiga prinsip demokrasi digital. Pertama ialah relasi dunia maya (online) dan dunia nyata (offline) berperan penting dalam konstruksi nalar politik kritis publik.
“Dalam konteks ini artinya demokrasi digital berusaha dan berlomba membentuk pada isu dan membentuk adanya jejaring berdasarkan kepentingan yang sama untuk membentuk adanya gerakan,” ujar Nur rahma.
Sementara prisnip demokrasi digital kedua ialah representasi dan partisipasi adalah prinsip demokrasi digital hari ini yang pada intinya meminta adanya keterbukaan publik terhadap pemerintah.
“Prinsip demokrasi digital yang ketiga, netizen adalah publik sebagai user ataupun receiver terhadap beragam informasi tersebut melalui akun media sosial masin-masing,” ujar Nur Rahma.
Oleh sebab itu, ia menyarankan agar bijak menjadi ujung tombak demokrasi digital. Pertama caranya dengan mampu memfilter dan memverifikasi setiap informasi di internet/medsos.
“Pelajari konten yang ingin kita post atau share. Hindari debat kusir di media sosial. Kemudian segera laporkan konten yang berisi ujaran kebencian fitnah atau bullying. Jadilah agen demokrasi digital yang sehat,” kata dia.
Dalam webinar tersebut, juga hadir pembicara lainnya, seperti Qamani Hazniyah, General Manager PT Gifera Odo Technologu, Marsujitullah Aldy Marwan yang merupakan seorang dosen, dan Tisa sebagai Key Opinion Leader.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Check Also

Peringati Hari Lingkungan Hidup, PLN Icon Plus Gelar Aksi Serentak “Green Employee Involvement” Bersama 2250 Peserta Menuju Masa Depan Berkelanjutan

LOMBOK – Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup, PLN Icon Plus menggelar aksi serentak bertajuk …