Hati-hati, Ini Bahaya di Balik Teknologi Pengenal Wajah atau Face Recognition

Maluku Tenggara Barat -Siapa sangka, ternyata ada bahaya di balik teknologi pengenal wajah atau face recognition. Hal itu diungkapkan oleh Astried Finna Ayu Kirana, Managing Director Astrindo Sentosa Kusuma.
Berbicara dalam acara webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Maluku Tenggara Barat, Maluku, Senin (1/11/2021), Astried mengatakan bahwa teknologi face recognition dapat menjadi pemicu dari penyebaran identitas ilegal.
Salah satunya lewat aplikasi faceapp yang populer di masyarakat saat ini. “Tren yang awalnya untuk menemani masyarakat di waktu senggang malah dapat menjadi sebuah ancaman yang patut dikhawatirkan oleh penggunanya,” kata Astried.
Pengenalan Wajah atau Face recognition sendiri merupakan teknik identifikasi teknologi biometrik dengan menggunakan wajah seseorang sebagai parameter utama mengidentifikasi dan menemukan lokasi dan luas semua wajah yang ada di dalam sebuah gambar tanpa memerhatikan pose, skala wajah, orientasi, umur seseorang, dan ekspresi.
Proses ini dilakukan dengan cara melakukan fitur yang telah diekstraksi dengan citra wajah yang disimpan sebagai database wajah. Secara garis besar, proses pengenalan wajah terdiri dari empat proses utama, yaitu Deteksi wajah (face detection), Alignment (face landmarks dan face positioning), Ekstraksi ciri atau wajah (face atau feature extraction), Pengenalan wajah (face recognition).
Astried melanjutkan, teknologi Face Recognition yang ada pada Faceapp memiliki risiko tinggi terhadap penyebaran identitas atau informasi pengguna. Lebih lanjut, Astried mengatakan bagaimana penggunaan Face Recognition sebagai autentikasi kata sandi juga dapat menimbulkan bahaya.
“Para pengguna harus sedikit berhati-hati untuk berbagi gambar dengan pihak ketiga, karena tak jarang penyebaran gambar akan disalahgunakan oleh pihak ketiga,” tambahnya.
Di sisi lain, Ia juga menyoroti ancaman Face Recognition sebagai pemicu tindakan salah tangkap. Apalagi, meski dapat membantu, namun tidak jarang juga hasil mendeteksi wajah tidak seakurat yang kita bayangkan.
“Ketidak akuratan yang terjadi saat pemindaian wajah ini tak ayal seringkali berimbas pada aksi salah tangkap oleh petugas,” kata Astried lagi.
Beberapa bahaya Face Recognition lainnya adalah;

  1. Menimbulkan tindak kejahatan baru
  2. Melanggar privasi penjualan data mengenai orang lain
  3. Membuka peluang terjadinya tindakan ilegal.

Ia menyebut bagaimana Facial Recognition sudah dimanfaatkan dunia, dan sulit untuk dihilangkan karena bermanfaat dalam beberapa aspek. Hanya saja, tetap harus ada sikap antisipasi dengan terus waspada terhadap setiap aplikasi dan alat autentikasi yang digunakan setiap harinya.
“Selain itu, harus diperhitungkan bahwa data ini disimpan di server pihak ketiga, dan juga berpotensi untuk dicuri oleh para pelaku kejahatan siber dan digunakan sebagai identitas samaran. Pengguna juga sebaiknya mengetahui dan memahami tingkat keamanan aplikasi dan mengunduhnya hanya dari toko resmi sebelum pengguna mengikuti tren,” katanya.
Terakhir dan tak kalah penting, selalu membaca persyaratan privasi untuk memahami hak dan jenis akses yang diminta oleh aplikasi tersebut.
Selain Astried Kirana, hadir pula dalam acara webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Maluku Tenggara Barat, Maluku, Senin (1/11/2021) Ferdy Karel Soukotta, Duta Wisata Indonesia, Peneliti, Musisi, Alek Iskandar, Managing Director – IMFocus Digital Consultant dan Sondang Pratama sebagai key opinion leader.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Check Also

Peringati Hari Lingkungan Hidup, PLN Icon Plus Gelar Aksi Serentak “Green Employee Involvement” Bersama 2250 Peserta Menuju Masa Depan Berkelanjutan

LOMBOK – Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup, PLN Icon Plus menggelar aksi serentak bertajuk …