Wajib Tahu, Hacker juga Punya Etika dalam Meretas Sistem Komputer

Buleleng Bali -Sejumlah kasus peretasan yang terjadi baru-baru ini yang dilakukan seorang peretas Brasil atas situs Badan Siber dan Sandi Negara Indonesia, disebut-sebut dilakukan seorang hacker. Begitu juga dengan kebocoran data BPJS yang terjadi beberapa bulan lalu.
Kabar tak kalah heboh juga memberitakan bahwa seorang hacker China telah membobol data sejumlah kementerian. Juga pembobol PeduliLindungi yang menjual sertifikat vaksin ilegal tanpa disuntik vaksin diberitakan dilakukan para hacker. Kontan, istilah hacker pun jadi topik hangat yang dibicarakan setahun terakhir.
Menurut M.Randy Mandala Putra IT RS Anggrek Mas saat menjadi pembicara dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Buleleng, Bali, Rabu 27 Oktober 2021, banyak stigma negatif terlanjur melekat di hacker.
“Sebetulnya hacker yang membobol untuk merusak dan mengambil data untuk dipergunakan bagi kepentingan dirinya sendiri itu adalah hacker hitam. Seperti cerita bawang merah bawang putih ada yang jahat dan ada yang baik,” ujar Randy dalam webinar yang dipandu oleh Eddie Bingky ini.
Sementara hacker putih itu beretika, berpedoman dan ada aturan mainnya serta ada sekolah dan hacker hitam hacker itulah yang tak beretika dan dikategorikan sebagai cracker. Istilah hacker itu sebenarnya penjaga bukan perusak. “Tapi sudah terlanjur melekat konotasi yang negatif,” imbuhnya.
Hacker itu istilah untuk seseorang yang mempelajari, memodifikasi, menganalisa, dan masuk ke sebuah jaringan komputer sebagai penjaga. Sementara kalau cracker orang-orang yang memiliki kemampuan dalam bidang pemrograman dan dapat membuka sistem jaringan komputer tapi dengan tujuan negatif.
Jadi sebenarnya keduanya memiliki ketrampilan yang sama tapi yang membedakannya adalah tujuannya. Jika hacker bertujuan memodifikasi untuk menjaga, mengetahui kelemahan kelemahan dari suatu sistem beda. Sedangkan cracker mempelajari hal yang sama tapi dia gunakan untuk hal-hal negatif yang merugikan orang lain.
“Kita selalu negatif thinking dengan istilah hacker itu padahal secara pengertian sesungguhnya hacker adalah seseorang atau tim yang mencari kelemahan atau bug (kutu) yang ada pada suatu sistem. Karena di dunia saat ini tidak ada sistem yang 100% sempurna karena kesempurnaan itu hanya milik Tuhan.”
Selain Randy juga hadir pembicara lainnya yaitu I Made Aditya Dharma, S.Pd, M.Pd Dosen PGSD Universitas Trisima Mulya, Nico Oliver PEnggiat Digital & Content Creator dan Denny Abal sebagai Key Opinion Leader.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Check Also

Jalin Sinergitas, Polda Bali Adakan Pertemuan dengan Biro Hukum dan Ham Provinsi Bali

DENPASAR – Direktorat Intelijen dan Keamanan (Ditintelkam) Polda Bali mengadakan pertemuan dengan Kepala Bagian Bantuan …