3 Cara Menjadi Masyarakat yang Cakap Digital, Jangan Cuma Main Medsos!

Nabire Papua -Perkembangan teknologi membuat digitalisasi tidak bisa dihindari. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan memiliki kemampuan literasi digital yang mumpuni, untuk bisa memanfaatkan teknologi yang semakin maju.
Sayangnya, literasi digital masih dimaknai secara sederhana, yakni menggunakan internet untuk media sosial saja. Padahal menurut Josephine Brightnessa, seorang marketing manager digital app, kecapakan digital juga termasuk kemampuan seseorang memanfaatkan internet untuk mengembangkan diri, berbisnis, dan membangun jaringan.
“Jadi cakap digital bukan cuma bisa main medsos saja, buka Facebook dan Instagram. Tapi bagaimana memanfaatkan teknologi-teknologi tersebut untuk kita gunakan dalam pengembangan diri, bisnis, dan mendatangkan keuntungan,” papar perempuan yang akrab disapa Jojo ini, dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Kabupaten Nabire, Papua, Kamis 28 Oktober 2021.
Josephine pun membagikan tiga cara menjadi masyarakat digital yang cakap dan bisa memanfaatkan perkembangan teknologi. Pertama, adalah mengembangkan kemampuan komunikasi dengan orang lain secara online. Perkembangan teknologi memungkinkan kita terhubung dengan orang lain yang berbeda wilayah, pulau, hingga negara.
Jika dulu komunikasi hanya dilakukan lewat suara melalui telepon, kini perkembangan teknologi memungkinkan komunikasi dilakukan lewat video call.
“Penting sekali memiliki skill komunikasi visual lewat video call atau conference call. Apalagi saat pandemi seperti sekarang, di mana bukan cuma pekerja yang online, anak-anak pun sekolah online,” paparnya.
Kedua, adalah mengembangkan jaringan dan bersosialisasi. Jojo menyebut di sini, penggunaan media sosial memainkan peran besar.
Media sosial menurutnya, jangan hanya dijadikan tempat pamer kekayaan atau tempat curhat. Tapi juga digunakan sebagai sarana sosialisasi dengan orang lain.
“Bangunlah koneksi yang baik di media sosial, lewat postingan-postingan yang bermanfaat. Konten pengembangan diri misalnya,” papar Jojo lagi.
Terakhir dan tak kalah penting adalah mengajarkan kemampuan digital yang kita miliki kepada orang lain, terutama generasi yang lebih tua. Bagi generasi milenial dan generasi Z, menggunakan internet dan teknologi digital lain tergolong mudah. Namun tidak begitu bagi generasi yang lebih tua.
“Mengapa kita perlu mengajari ayah, ibu, kakek, dan nenek, soal teknologi digital? Supaya kita punya ilmu tuh nggak disimpan sendiri, bisa bermanfaat juga bagi orang lain. Bahkan siapa tahu bisa bertukar ilmu,” terangnya.
Tentu saja selain memiliki manfaat, perkembangan teknologi yang demikian cepat juga memiliki dampak buruk. Salah satunya adalah munculnya hoax dan berita bohong, karena derasnya arus informasi. Lagi-lagi, kemampuan literasi digital memainkan peran penting untuk mencegah kita terhindar dari hoax dan kabar bohong.
“Minimal kalau kita sudah cakap kemampuan digitalnya, bisa mencegah hoax menyebar ke keluarga sendiri,” tuturnya.
Dalam kesempatan ini hadir juga Yazid Anwar (Founder Meraki Agency), Olivia Rumere (National Youth Gender Activist), dan Reza Aditya (key opinion leader).
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Check Also

Jalin Sinergitas, Polda Bali Adakan Pertemuan dengan Biro Hukum dan Ham Provinsi Bali

DENPASAR – Direktorat Intelijen dan Keamanan (Ditintelkam) Polda Bali mengadakan pertemuan dengan Kepala Bagian Bantuan …