Teknologi Digital Bisa Jadi Cara UMKM Lokal Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19

Sumbawa NTB -Usaha Mikro Kecil dan Menengah atau UMKM diharapakan mampu bertahan di tengah pandemi Covid-19. Salah satunya adalah UMKM daerah yang menjual produk-produk lokal di daerahnya.
Hal itu dikatakan oleh Syiis Nurhadi, Pengelola Bursa Efek Indonesia Universitas Samawa, saat berbicara dalam acara webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Selasa (26/10/2021).
Kata Syiis, UMKM Sumbawa seperti yang bergerak di sektor permen susu, madu Sunbawa hingga kain tenun memiliki keunggulan khusus yang produknya bisa dinikmati oleh semua pihak.
“Madu Sumbawa bukan dari ternak tapi madu liar. Lebah menyerap bunga secara liar jadi rasanya bervariasi dan setiap daerah memiliki rasa madu berbeda. Mari kita bersama-sama khususnya di Sumbawa, mencintai produk lokal dan agar grup lokal sama-sama promosi demi kemajuan daerah kita,” tambahnya.
Hampir senada dengan Syiis, Chyntia Andarinie, Founder Mom Influencer Indonesia, juga bercerita mengenai pentingnya UMKM memanfaatkan teknologi digital dalam berjualan.
Berbicara dalam acara yang sama, Chyntia mengatakan bagaimana data ekonomi digital mengalami pertumbuhan hingga 38 persen.
Ada juga penambahan dua juta UMKM masuk ke ekosistem digital selama pandemi Covid-19. Hal ini, kata Chyntia, menjadi bukti bahwa teknologi digital mampu menjadi saluran lain sebagai sarana penjualan.
Salah satu yang bisa dimanfaatkan oleh pelaku UMKM adalah beriklan di media digital untuk mempromosikan produk yang dijajakan. Caranya pertama, tentukan tempat beriklan yang dianggap paling sesuai dengan jenis usaha. Kedua, siapkan aset berupa foto dan tulisan yang akan diunggah.
“Ketiga, mulai unggah dan evaluasi secara berkala. Kita harus mengukur sampai mana, dan keberhasilan apa yang sudah kita lakukan. Kalian bisa evaluasi apa saja bentuk promosi yang harus dikuatkan lagi atau melakukan promo potangan harga,” kata Chyntia Andarinie.
Lebih lanjut Chyntia menuturkan platform-platform beriklan di media digital seperti website, media sosial hingga e-commerce. Hanya saja, masing-masing platform diangga memiliki kelebihan dan kekurangan.
Misal website dianggap sebagai platform yang mampu menampilkan iklan secara lengkap. Hanya saja membutuhkan biaya yang tidak murah.
“Kalau ada budget, bangun website. Informasi akan lebih lengkap dengan tampilan besar dan ada banyak bagian yang bisa diisi termasuk foto yang lebih besar. Namun kelemahannya membutuhkan budget lumayan karena harus menyiapkan domain dan hosting serta harus ada yang mengola website,” tambahnya.
Beberapa jenis UMKM yang cocok dengan platform website adalah jasa fotografi dan videografi hingga UMKM di bidang fesyen.
Setelah itu ada juga flatform media sosial yang memiliki jangkauan luas, dan ada pilihan bisa gratis atau berbayar. Hanya saja pengguna sangat diharapkan rutin mengunggah postingan serta membutuhkan aplikasi tambahan untuk bisa mengakses media sosial.
Terakhir ada e-commerce atau laiknya pasar digital tempat penjual menjajakan dagangannya. E-commerce juga memiliki jangkauan yang luas dengan biaya mulai dari nol rupiah. E-commerce juga sudah memiliki sistem memadai.
Hanya saja, platform ini kurang cocok untuk UMKM yang menjajakan jasa seperti home service atau fotografi.
Selain Chyntia Andarinie dan Syiis Nurhadi, hadir pula dalam acara webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Selasa (26/10/2021) yaitu Alek Iskandar, Managing Director IMFocus Digital Consultant dan Nata Gein sebagai key opinion leader.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Check Also

Pantau Kebutuhan Daging saat Idul Adha, Polda Bali Datangi Tempat Pemotongan Hewan

DENPASAR – Personel Direktorat Intelijen dan Keamanan (Ditintelkam) Polda Bali mendatangi salah tempat pemotongan hewan …