Mesin Pencari di Internet Jadi Opsi Sumber Referensi Baru

Kupang NTT – Saat ini buku bukan lagi menjadi satu-satunya sumber mencari referensi. Perkembangan teknologi memungkinkan internet menjelma sebagai opsi sumber ilmu baru berkat adanya mesin pencari. Dengan bantuan mesin pencari, kita mampu mencari informasi yang memang dibutuhkan.
Hanya dengan memasukkan kata kunci tertentu di kolom pencarian, maka kamu sudah bisa mendapatkan informasi yang terkait atau relevan dengan cepat. Referensi kamu akan semakin luas seiring mengelusuri mesin pencari lebih dalam.
“Ada banyak jenis sumber referensi di internet. Kita bisa memanfaatkan mesin pencari seperti Google, Bing, Yahoo, lycos, ask, altavista, Google scholar ,dan lainnya. Tapi harus diakui bahwa yang paling banyak memang orang mencari referensi dari google,” ujar Pasifikus Mala Meko, Dosen Politeknik Negeri Kupang dalam Webinar wilayah Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, Senin 25 Oktober 2021.
Lebih lanjut kata Pasifikus, perbedaan antara Google dan Google scholar adalah pencarian informasi di Google menggunakan kata kunci konsep manajemen pemasaran.
Perbedaan Google Scholar dengan Google yang paling utama terletak pada filter pencariannya. Google adalah mesin pencari yang akan menampilkan semua hal di internet yang berkaitan dengan kata kunci yang diinput oleh user. Sedangkan Google Scholar hanya akan menampilkan hal yang berhubungan dengan materi ilmiah.
Misalnya dengan kata kuncinya adalah manajemen pemasaran, nanti setelah ditulis ditelusuri akan keluar seluruh hasilnya yang keluar hasilnya mesin pencarian itu adalah memuat semua hal yang berkaitan dengan manajemen pemasaran.
Namun ada penambahan di judul utama jadi tidak hanya manajemen pemasaran tetapi bagian-bagian dari manajemen pemasaran itu tidak secara khusus dimuat di dalam tetapi dimuat seluruhnya dapat dilihat dalam bentuk umum.
Sementara referensi yang disebarkan oleh Wikipedia contohnya kita bisa ambil lalu kita juga bisa merubahnya di dalam penjelasan referensi tersebut. Namun ketika kita merubah isi dalam penjelasan tersebut belum tentu apa yang kita tambahkan itu benar-benar penuh dan keaslian ini menjadi perhatian para akademisi di bidang pendidikan maupun mahasiswa.
Sedangkan Google scholar adalah informasi referensi contohnya jurnal artikel artikel hasil penelitian dan lain sebagainya. Dan ini terangkum di dalam Google scholar ini atau cendekia ini.
Untuk mahasiswa untuk anak adik-adik atau tenaga tenaga pendidik para guru atau para dosen ini juga menjadi bekal kita untuk Bagaimana lebih memilah sumber-sumber atau kutipan kutipan yang bisa kita pakai untuk sebagai landasan dalam melakukan pelajaran baik itu di sekolah maupun di masyarakat. Untuk mahasiswa biasanya kebutuhan-kebutuhan dan reaksi ini yang berbasis digital sering digunakan dalam misalnya dalam pembuatan tulisan tulisan ataupun penyusunan skripsi ataupun tingkat yang lebih tinggi dalam pembuatan jurnal.
DIjelaskannya juga bahwa Google biasa adalah search engine yang menelusur informasi di internet ke semua website entah itu website resmi website pribadi. Website ini ada yang bisa dipertanggungjawabkan ada yang tidak.
Sedangkan ketika menelusuri informasi yang ada di Google scholar maka yang muncul adalah website-website yang memang sudah ada yang bertanggung jawab atas kebenaran isi nya. Jadi ketika seseorang belum bisa membedakan mana website yang resmi atau tidak disarankan untuk menggunakan Google scholar.
Selain Pasifikus juga hadir pembicara lain yaitu Cenuk Widyastrina Sayekti, Dosen dan Peneliti , Nurul Amalia PRamugari Saudi Airline dan Content Creator dan Adelita sebagai Key Opinion Leader.
Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Check Also

Peringati Hari Lingkungan Hidup, PLN Icon Plus Gelar Aksi Serentak “Green Employee Involvement” Bersama 2250 Peserta Menuju Masa Depan Berkelanjutan

LOMBOK – Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup, PLN Icon Plus menggelar aksi serentak bertajuk …