Generasi Alpha Lebih Percaya Informasi dari Media Interaktif

Buleleng -Generasi saat ini sebagian besar diisi oleh generasi Z yang sudah sangat paham teknologi digital. Namun, pemahaman digital tersebut diyakini masih kalah dibanding dengan generasi Alpha yang disebut-sebut digital native. Selain itu, generasi Alpha juga diklaim paling cerdas dan akrab dengan teknologi digital.
Generasi Alpha adalah generasi yang lahir dari tahun 2010-2025 yang saat ini masih anak anak. Sebanyak 2,5 juta anak generasi alpha lahir di dunia setiap minggunya.
Nur Rahma Yenita, M.Pd, Ketua Program Studi Teknik Elektro STTI, dalam Webinar Literasi Digital yang digelar oleh Kemkominfo dan Siberkreasi wilayah Kabupaten Buleleng, Bali, Senin 25 Oktober 2021, mengatakan bahwa generasi Alpha ini memiliki keunikan tersendiri terkait dengan dunia digital.
“Untuk itu ada sejumlah kemampuan literasi digita yang wajib dimiliki oleh guru bagi Generasi Alpha. Dan Guru generasi Alpha itu adalah guru yang peserta didiknya lahir di masa generasi Alpha dan guru yang mengajar di era revolusi industri 4.0,” ujar Rahma dalam webinar yang dipandu oleh Claudia Lengkey ini.
Dijelaskan juga oleh Rahma bahwa karakter generasi Alpha itu lebih percaya informasi dari media interaktif. Sebab generasi ini lahir pada saat teknologi sudah canggih sekali dan koneksi internet sudah cukup bagus.
“Kapanpun dimanapun kita bisa mengakses data maupun informasi dan kita bisa dapatkan dengan mudah. Ini juga digunakan atau dimanfaatkan oleh generasi Alpha jadi merasa lebih percaya informasi dari media interaktif di dalam smartphone yang ada di genggamannya,” ujarnya.
Selain itu, generasi ini lebih suka smartphone daripada TV, pintar bersosial media dan tidak suka membaca buku. Sebab mereka lebih senang membaca informasi di smartphonenya. Meski begitu generasi ini juga dikenal sebagai pribadi yang fast learning dan adaptif terhadap perkembangan teknologi. Meski begitu anak anak generasi Alpha biasanya kurang loyal tapi bekerja secara efektif.
“Ciri lainnya adalah generasi ini biasa melakukan transaksi cashless, tidak percaya mitos dan generasi terdidik,” bebernya.
Karena mereka dengan mudah bisa mengakses apa saja melalui internet bahkan ketika ibu bapak guru ingin menyampaikan materi untuk besok di kelas siswa ini sudah mempersiapkan macam pertanyaan dan karena mereka bisa mengakses dengan mudah. Yang khas juga dari generasi ini adalah biasa melakukan komunikasi dua arah.
Hal ini juga diakibatkan sedikit banyak dari perilaku orangtua juga. “Kadang orang tuanya menghindari anaknya rewel langsung dikasih smartphone akhirnya di masa balita pun mereka sudah mengenal smartphone dan sudah mengenal tampilan-tampilan teknologi digital di sekitar kehidupannya,” katanya.
Selain Rahma pembicara lain adalah Dr. Komang Anik Sugiani, S.Pd, M.Pd, Dosen Politeknik Ganesha Guru, Rizky Rahmawati Pasaribu, SH, LLM, Advokat dan Managing Partner Law Office Amali dan Associates dan Putri Masyita sebagai Key Opinion Leader.
Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Check Also

Peringati Hari Lingkungan Hidup, PLN Icon Plus Gelar Aksi Serentak “Green Employee Involvement” Bersama 2250 Peserta Menuju Masa Depan Berkelanjutan

LOMBOK – Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup, PLN Icon Plus menggelar aksi serentak bertajuk …