Bima -Kekerasan berbasis Gender Online (KBGO) adalah kekerasan yang diarahkan terhadap seseorang atau individu berdasarkan gendernya yang difasilitasi teknologi. Pada umumnya kekerasan jenis ini terjadi pada perempuan, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa laki-laki juga mengalami KBGO. Secara garis besar, KBGO ini terdiri dari tiga bentuk, yakni kekerasan yang difasilitasi teknologi, penyebaran konten seksual, dan revenge porn.
“Kasus KBGO baru mendapatkan perhatian tahun 2015 ke atas, tetapi mulai banyak yang resmi melapor itu tahun 2017 dan kasusnya menjadi sangat signifikan ketika mulai masuk (masa) pandemi. Tahun 2020 ada peningkatan kasus sebesar 348 persen KBGO yang dilaporkan,” papar Cenuk Sayekti, Peneliti dan Dosen dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, Jumat (22/10/2021).
Meningkatkan kasus KBGO sepatutnya membuat kita semakin sadar dan waspada karena hal tersebut bisa saja terjadi pada diri sendiri dan orang sekitar. Cenuk memaparkan, KBGO ini terdiri atas beberapa hal. Pertama, doxing yaitu penyebaran konten pribadi seseorang tanpa izin untuk mempermalukan atau balas dendam. Kedua, cyberharrasment yang menjadi salah satu kasus terbanyak setelah revenge porn. Kejahatan ini termasuk pelecehan di dunia maya dalam bentuk pesan atau sexting. Ketiga, flaming yang biasanya terjadi pada wanita. Kebanyakan terjadi melalui pesan dengan mengirimkan kata-kata atau gambar yang tidak pantas.
Keempat, impersonating yaitu berpura-pura menjadi seseorang untuk mencemarkan dan merusak reputasi orang lain. Kelima, outing yaitu bentuk KBGO di mana kita mengungkapkan orientasi seksual seseorang tanpa izin. Keenam, online shaming yaitu mempermalukan seseorang melalui kata-kata atau gambar. Ketujuh, honey trapping sebagai sebuah kejahatan yang banyak terjadi di aplikasi kencan online. Tujuannya untuk keuntungan materi atau bersifat politis.
“Tidak perlu merekam adegan atau aktivitas seksual, yang rugi Anda karena bisa mengorbankan masa depan. Jangan pernah mengirimkan foto ke pacar tanpa busana karena ketika putus foto itu bisa disebarkan,” imbaunya.
Jaga selalu data dan identitas pribadi kita untuk tidak diunggah secara sembarangan di media sosial. Menurut Cenuk, kejahatan seksual bisa terjadi dan dilakukan dari manipulasi foto yang diambil dari data-data tersebut. Lalu, apabila kita menjadi korban dari pelecehan seksual online, manfaatkanlah fitur report pada media sosial tersebut. Terapkan juga tindakan block, report, ignore, dan mute. Ketika kita mulai merasa tidak nyaman, kumpulkan bukti-bukti dan lapor ke pihak berwajib untuk meminta perlindungan.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Bima, NTB, Jumat (22/10/2021) juga menghadirkan pembicara, Tiara Maharani (Writer – Correspondent Indonesia), Abd. Rahman Hidayat (Sakti Peksos Kementerian Sosial Kab. Bima), dan Vizza Dara (Key Opinion Leader).
Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Check Also

Pantau Kebutuhan Daging saat Idul Adha, Polda Bali Datangi Tempat Pemotongan Hewan

DENPASAR – Personel Direktorat Intelijen dan Keamanan (Ditintelkam) Polda Bali mendatangi salah tempat pemotongan hewan …