Pakar Ungkap Tren Serangan Siber di Indonesia Pada Masa Pandemi Covid-19

Lanny Jaya papua -Serangan siber atau cyberattack merupakan manuver ofensif yang digunakan oleh negara, individu, kelompok, atau organisasi yang menargetkan sistem informasi komputer, infrastruktur, jaringan komputer, atau perangkat komputer pribadi dengan berbagai cara tindakan berbahaya.
Di masa pandemi Covid-19 seperti ini, angka serangan siber ikut meningkat, mengingat aktivitas masyarakat banyak mengandalkan perangkat digital guna menghindari infeksi yang disebabkan virus corona jenis baru tersebut.
Dikatakan oleh Ofir Victor Soumokil, Analis Business Continuity, tren serangan siber di Indonesia ikut meningkat di masa pandemi Covid-19.
Berbicara dalam agenda webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Kabupaten Lanny Jaya, Papua, Kamis (21/10/2021), Ofir Victor mengatakan bagaimana 70 persen kasus serangan siber bentuk deface atau perusakan ditus web yang terjadi selama pandemi, banyak menyerang sistem pemerintahan daerah dan pendidikan.
“Pemerintah Daerah dan sektor Akademik menjadi dua sektor yang paling banyak diretas dalam periode Januari-Juli 2020,” tambah Ofir Victor.
Padahal, sistem elektronik yang telah diretas itu rentan digunakan sebagai infrastuktur kejahatan siber atau serangan siber yang lebih merugikan. Untuk serangan siber kategori hacking atau peretasan, Ofir mengatakan adanya indikasi perubahan tren hack and ransom di mana kegiatan peretasan diikuti dengan ransom data situs yang diretas.
“Pandemi Covid-19 terjadi peningkatan aktivitas pencurian informasi oleh marlware,” tambahnya.
Sementara itu mengutip Global Information Security Workforce Study dari Organisasi ISC 2, Ofir Victor menyampaikan terkait fakta-fakta keamanan informasi.
Fakta tersebut di antaranya:

  1. 83 persen organisasi sangat khawatir terhadap menurunnya atau berkurangnya reputasi.
  2. 93 persen organisasi yang tidak memiliki tingkat pemahaman yang baik mengalami kegagalan yang disebabkan oleh personelnya.
  3. 36 persen kegagalan keamanan informasi yang terberat disebabkan oleh kesalahan manusia.
  4. Jumlah insiden keamanan informasi mengalami penurunan pada 51.6 persen organisasi yang tersertifikasi.
  5. 49 persen organisasi mengalami hambatan pengembangan keamanan informasi.
    Terakhir, Ofir Victor juga menyampaikan beberapa risiko keamanan siber diantaranya risiko hukum, risiko finansial, risiko reputasi dan risiko operasional.
    Selain Ofir Victor Soumokil, Analis Business Continuity, hadir pula dalam acara webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021, wilayah Kabupaten Lanny Jaya, Papua, Kamis (21/10/2021) yaitu Fendi, Founder Superstar Community Indonesia, Azizah Zuhriah, Manager at Alhikmah Coop dan Reza Aditya sebagai key opinion leader.
    Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
    Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Check Also

Jalin Sinergitas, Polda Bali Adakan Pertemuan dengan Biro Hukum dan Ham Provinsi Bali

DENPASAR – Direktorat Intelijen dan Keamanan (Ditintelkam) Polda Bali mengadakan pertemuan dengan Kepala Bagian Bantuan …