Ciri Khas Berita Hoax, Heboh Minta Diviralkan

Maluku Tengah -Di Indonesia berdasarkan kalkulasi per Januari 2021 dari populasi sebanyak 274,9 juta, ada mobile connection sebanyak 345,3 juta, dan pengguna internetnya ada 202,6 juta dan yang aktif di media sosial ada 170 juta atau 61,8%.
Menurut Mark M.Ulfie, ST, Penggiat Komunitas Kreatif & Admin Amo dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, Selasa 19 Oktober 2021, jumlah ini terbilang cukup besar .
“Karena memang selain kita cukup besar sebaran pengguna sosial media di media platform dan rata-rata kita kurang lebih mendistribusikan 5% dari semua total pengguna di dunia,” ujar Mark dalam webinar yang dipandu oleh Claudia Lengkey ini.
Lebih lanjut kata Mark Ulfie, dengan besarnya jumlah pengguna internet khususnya medsos, salah satu hal yang diwaspadai adalah menyebarnya hoax yang masif. Dan di Indonesia kebanyakan hoax malah tumbuh subur di Indonesia karena beberapa alasan.
“Hoax tumbuh subur di Indonesia karena sebagian besar netizen malas membaca. Hal ini bisa dilihat dari hasil survei UNESCO bahwa minat baca di Indonesia itu 0,001 artinya 1 orang dari 1000 orang yang membaca buku dan bisa dibilang jumlah ini sangat sedikit persentasenya,” imbuhnya lagi.
Selain itu ditambah lagi, banyak dari kita malas berpikir, SDM rendah dan kadang menjadi fanatisme buta. Yang akhirnya sikap ini bisa mempersempit perspektif dan enggan berdialog, eksklusivitas atau polarisasi serta menjadi hilangnya akal sehat. “Ada perasaan membuat kita tanpa mau melihat reflektif lain ini yang membuat hoax cepat juga,” ungkapnya.
Oleh karena itu harus dipahami akan pentingnya literasi digital. Dikutip dari materi pendukung literasi digital kementerian Pendidikan dan kebudayaan RI terdapat 8 elemen untuk mengembangkan literasi digital:

  1. Cultural kemampuan untuk memahami berbagai konteks dalam dunia digital
  2. Kognitif daya pikir dalam menganalisis dan menilai content.
  3. Konstruktif menciptakan ulang sesuatu dengan ahli dan aktual.
  4. Komunikatif paham Bagaimana sistem jaringan komunikasi digital.
  5. Percaya diri dan bertanggung jawab
  6. Melakukan hal baru dengan cara kreatif.
  7. Kritis dalam melihat konten dan
    8.bertanggung jawab secara sosial.
    Hal inilah yang bisa menangkal hoax yang berkeliaran di depan mata di ruang digital. Kita juga harus tahu ciri-ciri hoax yaitu provokatif menciptakan kecemasan kebencian permusuhan dan sumber tidak jelas dan tidak ada yang bisa dimintai tanggung jawab. Atau klarifikasi biasanya ditulis oleh media abal-abal dimana alamat media dan penanggung jawab tidak jelas serta pesan sepihak menyerang dan tidak netral.
    Biasanya juga hoax mencatut nama tokoh berpengaruh atau pakai nama mirip media terkenal dan memanfaatkan fanatisme atau nama ideologi agama suara rakyat atau hal yang sedang viral. Juga ciri lain adalah hoax biasanya berisi ajakan heboh minta supaya di-share dan atau diviralkan dengan memanipulasi foto atau video dan keterangannya.
    Selain Mark Ulfie pembicara lain adalah Chyntia Andarinie Founder Mom Influencer Indonesia, Cenuk Widiyastrina Sayekti, Peneliti dan Dosen dan Nata Gein sebagai Key Opinion Leader.
    Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
    Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Check Also

Jalin Sinergitas, Polda Bali Adakan Pertemuan dengan Biro Hukum dan Ham Provinsi Bali

DENPASAR – Direktorat Intelijen dan Keamanan (Ditintelkam) Polda Bali mengadakan pertemuan dengan Kepala Bagian Bantuan …