Jenis Komentar yang Tidak Diperbolehkan

Manokwari -Indonesia merupakan negara yang menganut sistem demokrasi Pancasila dan sangat menghargai kebebasan berpendapat. Sayangnya, banyak orang salah mengartikan kebebasan berekspresi di ruang digital sehingga menimbulkan berbagai permasalahan, seperti konflik, masalah privasi, dan pengaruh buruk.
“Adanya kebebasan berpendapat ini bukan berarti kita bisa berpendapat sebebas-bebasnya. Kebebasan berpendapat dan berpendapat sebebas-bebasnya itu sangat berbeda,” tutur Forita Djadi, Pemilik Deva Wedding & Event dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Manokwari, Papua Barat, Senin (18/10/2021).
Ia menjelaskan, kebebasan berpendapat tetap memiliki batasan karena ada undang-undang yang mengatur. Jadi, kita sebagai pengguna internet harus bijaksana dalam menggunakannya agar tidak berkomentar sembarangan.
Sebuah komentar negatif di era digital bisa membuat kita terkena pidana. Komentar-komentar yang berpotensi melanggar undang-undang dan dipidana di antaranya. Pertama, komentar body shaming dan pencemaran nama baik. Komentar ini merupakan tindakan menghina seputar fisik atau penampilan seseorang. Komentar bodyshaming bisa menimbulkan bullying dan pencemaran nama baik.
Kedua, komentar hoaks yakni komentar mengenai informasi yang tidak benar tanpa klarifikasi terlebih dahulu. Apabila kita ketahuan memberikan komentar hoaks secara sengaja, kita juga bisa terjerat undang-undang dan hukum pidana baik berupa pidana penjara atau denda. Ketiga, komentar berupa ancaman yang menakut-nakuti korban. Dengan ini orang yang diancam bisa melaporkan ke kepolisian.
Keempat, komentar kesusilaan yakni tindakan seseorang yang merendahakan orang lain. Komentar ini berupa komentar yang membodoh-bodohi hingga komentar melecehkan yang memiliki unsur pornografi. Kelima, komentar SARA yaitu komentar yang menjelekkan atau menghina mengenai suku, ras, agama, dan antar golongan
Dengan itu, setiap kita berkomentar harus bijak dan berpikir terlebih dahulu. Tinjau kembali apakah komentar yang kita utarakan itu penting, informatif, mengandung kebaikan, memberikan inspirasi, sesuai fakta, dan sesuai konteks masalah.
“Kita perlu koreksi diri apakah komentar kita cocok atau sesuai dengan yang sedang dibicarakan. Komentarlah sesuai konteks masalahnya dan sesuai apa yang sedang dibicarakan,” jelas Forita.
Selain bijak berkomentar, ketika kita merasakan hal sebaliknya atau mendapat komentar negatif kita perli menimbang tingkat kepentingan dari komentar negatif tersebut. Apabila tidak pentinb diabaikan saja. Kemudian, balaslah komentar dengan bahasa yang baik dan sopan. Hal yang perlu kita ingat dan perhatikan bahwa setiap komentar yang kita lontarkan di media sosial akan meninggalkan jejak digital.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Manokwari, Papua Barat, Senin (18/10/2021) juga menghadirkan pembicara, M. Dedi Gunawan (Ketua Bidang Koperasi dan UMKM HAPI), Siti J. Hindom (Aktivis Sosial), dan Fisca (Key Opinion Leader).
Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Check Also

Peringati Hari Lingkungan Hidup, PLN Icon Plus Gelar Aksi Serentak “Green Employee Involvement” Bersama 2250 Peserta Menuju Masa Depan Berkelanjutan

LOMBOK – Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup, PLN Icon Plus menggelar aksi serentak bertajuk …