Tantangan Dalam Penerapan Literasi Digital di Kabupaten Alor NTT

Kabupaten Alor -Di masa pandemi, kemampuan pendidik atau guru dalam berliterasi digital menjadi taruhan tercapai program pembelajaran yang baik. Sebab dengan pembatasan interaksi sosial, memaksa seluruh siswa didik berada di rumah dan memanfaatkan teknologi untuk tetap menimba ilmu.
Seperti yang dikatakan oleh Adolof Bayang, S.Pd, Ketua IGTKI, PGRI Kabupaten Alor dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, Rabu 13 Oktober 2021, di masa pandemi dan setelahnya penting menerapkan literasi digital untuk tenaga pendidik dan anak didik terutama di daerah seperti di Kabupaten Alor.
“Literasi digital merupakan pengetahuan serta kecakapan berguna dalam memanfaatkan media digital sebagai alat komunikasi jaringan internet dan lain sebagainya,” ujar Adolof dalam webinar yang dipandu oleh Yulian Noor ini.
Lebih lanjut, Adolof mengatakan bahwa ada beberapa kecakapan yang berguna dalam literasi digital yang mencakup kemampuan untuk menemukan, mengerjakan, mengevaluasi, menggunakan dan membuat serta memanfaatkannya dengan bijak, cerdas, cermat serta tepat sesuai kegunaannya.
Karenanya, penerapan literasi digital di lingkungan pendidikan atau sekolah bagi tenaga pendidik ada diantaranya adalah komunikasi guru dengan guru dan guru dengan siswa lewat media sosial. Semisal mengirim soal tugas sekolah lewat email dan WhatsApp.
“Bagi siswa atau anak didik yaitu mengkomunikasikan siswa dengan guru dan siswa dengan temannya menggunakan media sosial. Seperti mengirim tugas atau PR sekolah lewat email atau whatsapp dan pembelajaran dengan cara online yakni lewat aplikasi ataupun web,” katanya.
Khusus di Kabupaten Alor, lanjutnya ada sejumlah tantangan dalam penerapan literasi digital yaitu kondisi geografis, kendala jaringan internet, kendala perangkat HP Android, laptop dan pulsa data dan kendala ketrampilan pengetahuan SDMnya.
“Alor ini termasuk daerah kepulauan, kondisi ini juga membuat tenaga pendidik tetap berusaha menghadapi era digital ini,” bebernya lagi.
Menempatkan guru sebagai ujung tombak dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk merencanakan materi pembelajaran terbaik memilih metode atau kegiatan yang paling sesuai untuk anak-anak yang dilayaninya dan memilih media atau media digital dan alat yang ada di sekitar sesuai kriteria yang tepat.
Ia juga mengatakan selain guru dan tenaga pendidikan yang amat berperan dalam kualitas anak didik, ada juga peran pihak lain yang tidak boleh terlupakan yaitu peran orang tua dan keluarg serta peran mitra dan komunitas
“Mitra dan komunitas dalam artian organisasi profesi seperti (IGTKI ,PGRI ,Himpaudi), tokoh masyarakat, instansi terkait seperti dinas pendidikan setempat, dunia usaha dan industri,” tandas Adolof.
Selain Adolof pembicara lain yang turut berbagi wawasan tentang literasi digital adalah Dedy Triawan CTO MEC Indonesia, Nennette Jacobus Branding Strategist, Relawan Kemanusiaan dan Content Creator dan Vizza Dara sebagai Key Opinion Leader.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Check Also

Peringati Hari Lingkungan Hidup, PLN Icon Plus Gelar Aksi Serentak “Green Employee Involvement” Bersama 2250 Peserta Menuju Masa Depan Berkelanjutan

LOMBOK – Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup, PLN Icon Plus menggelar aksi serentak bertajuk …