Munculnya Hoaks Bisa Dipicu oleh Rasa Malas


Kepulauan tidore -Media sosial menjadi salah satu wadah terbesar menyebarnya berita hoax dibandingkan dengan TV, media massa maupun media komunikasi lainnya. Tak heran sebab pengguna media sosial di Indonesia dari tahuhn ke tahun semakin meningkat saja.
Menurut Arie Erffandy, seorang Praktisi Komunikasi dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kepulauan Tidore, Maluku Utara, Kamis 14 Oktober 2021, hoax diciptakan untuk tujuan yang beragam mulai.
“Sejumlah tujuan hoax mulai dari menciptakan kekacauan, menjatuhkan citra seseorang atau lembaga hingga tujuan untuk mendapatkan keuntungan secara psikologis maupun finansial,” ujar Arie Erffandy a dalam webinar yang dipandu oleh Jhoni Chandra ini.
Lebih lanjut dikatakannya menurut kamus besar Bahasa Indonesia KBBI hoax ditulis menjadi hoaks yang diartikan sebagai informasi bohong. Sehingga hoax bisa dikatakan merupakan informasi bohong yang dibuat sedemikian rupa hingga seolah-olah benar hoax itu diciptakan dari berbagai bentuk kontennya.
Konten hoax bisa berupa narasi yaitu generalisasi dalam informasi atau berita yang berlebihan tanpa akurasi yang akurat. Atau bisa juga sebagai foto/gambar editan yang tidak selaras dengan berita fotonya atauoun video untuk penegasan nyata berita yang disebar.
Arie juga mengatakan bahwa ada sejumlah hal pemicu hoaks diantaranya adalah untuk mengikuti trend. Sebab hastag di sosial media gampang membuat netizen terpancing, berkomentar dan ikut menyebarkan informasinya tanpa validasi.
“Karena hastagnya ramai semisal kasus tertentu menjadi trending akhirnya mereka mencari tahu lalu mereka mengesharenya. Orang-orang melihat hastag misalnya ramai dan mereka ikut ikut saja,” bebernya.
Selain itu isi berita bukan sumber berita, asal topik yang diberitakan sesuai dengan pemikirannya langsung dianggap benar tanpa memeriksa kembali ke jelaskan sumber berita tersebut.
“Seperti hoax tentang vaksin yang menyebarkan berita bahwa habis vaksin bisa cacat atau atau sakit dan mereka merasa itu benar lalu mereka sebar berita itu lalu munculah hoax ini,” bebernya lagi.
Selain itu yang menjadi pemicu munculnya hoax biasanya karena pelakunya hanya berkutat atau hanya berteman dengan handphone seharian. Serba malas mulai dari malas membaca verifikasi berita bahkan memiliki kecemasan terhadap sesuatu yang berlebihan.
Hoaks dipicu karena netizen terbiasa dengan perilaku sharing tanpa saring. “Asal judul provokatif dan lagi ramai dibicarakan langsung posting tanpa membaca isi beritanya atau mengecek sumber beritanya,” katanya.
Selain Arie juga hadir pembicara lainnya yaitu Ika Febriana Habiba, CX Manager PT Digital Tunai Kita, Fajar Sidik, Zinester & Podcaster 30Degree Media Network dan Denny Abal sebagai Key Opinion Leader.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Check Also

Peringati Hari Lingkungan Hidup, PLN Icon Plus Gelar Aksi Serentak “Green Employee Involvement” Bersama 2250 Peserta Menuju Masa Depan Berkelanjutan

LOMBOK – Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup, PLN Icon Plus menggelar aksi serentak bertajuk …