Netizen Indonesia Perlu Belajar Budaya dan Etika Berinternet

Kupang NTT -Internet saat ini menjadi sebuah kebutuhan yang mengisi waktu kita sehari-hari apalagi di tengah pandemi. Banyak yang membayangkan internet sebagai sarana berekspresi berselancar adalah sebuah taman indah.
Tapi sebenarnya pada kenyataannya bukan saja keindahan yang ada di dunia internet tapi diwarnai dengan sisi buruknya, bayangkan ada juga selokan-selokan kotor.
Menurut Max Abr.Soleman Lenggu, S.Kom, MT, Wakil Ketua Bidang Akademik STIKOM Uyelindo dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, Selasa 12 Oktober 2021, karena internet berisi sisi indah dan buruk, kita perlu mengenalkan internet secara beretika dan berbudaya apalagi kita orang Indonesia
“Internet ada sisi positif dan negatifnya sehingga dibutuhkan literasi digital agar kemajuan internet yang begitu cepat diimbangi dengan kualitas diri penggunanya,” ujar Lenggu dalam webinar yang dipandu oleh Eddie Bingky ini
Diungkapkannya juga bahwa ia pernah membaca artikel tentang ramah tamah nya orang Indonesia secara fisik secara atau ketemu langsung. Tetapi keramahtamahan Indonesia di dunia nyata ini berbeda dengan di dunia maya orang.
“Orang Indonesia justru tidak ramah di dunia maya itulah yang menyebabkan kenapa kita perlu belajar budaya dan etika berinternet,” jelasnya lagi.
Dalam survei patroli cyber 2021 kerugian akibat kejahatan cyber capai 3,88 triliun. Artinya bahwa sebenarnya banyak juga orang yang didalami tidak menerapkan etika dan tidak berbudaya
Terdapat 15.152 aduan kejahatan cyber yang dilaporkan melalui portal patroli siber sepanjang Januari hingga September 2021 dengan total kerugian 3,88 triliun. “Tercatat content tentang penipuan paling banyak dilaporkan yakni 4.601 kasus selain penipuan banyak diantara masyarakat yang melaporkan konten soal pengancaman, pemerasan, pornografi 333, pemalsuan dokumen, provokasi, penistaan agama, prostitusi dan pornografi anak,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa pelaku pengancaman secara online hukumannya lebih berat daripada menipu secara langsun. Hal ini karena kalau menipu secara langsung yang terdampak terbatas pada orang yang hadir secara fisik saja, tetapi kalau mengancam lewat medsos atau lewat dunia maya, dalam satu detik dampaknya dan audience nya banyak sekali tersebar. “Itulah yang mungkin menyebabkan undang-undang menetapkan ancaman hukumannya lebih berat,” katanya.
Dari banyaknya laporan itu, kemungkinan besar masih banyak lagi fakta di lapangan tentang kejahatan yang tidak dilaporkan dengan berbagai alasan. Karena pengguna internet di Indonesia sangat tinggi. Dari data diketahui bahwa jumlah penduduk Indonesia 274, 9 juta jiwa dan sebanyak 202,6 juta sudah memakai internet serta 170 juta jiwa aktif di sosmed. Jumlah yang sangat besar ini bisa menjadi ancaman sekaligus peluang.
Selain Lenggu juga hadir pembicara lainnya yaitu Nurul Amalia, Pramugari Saudi Airlines, Digital Content Creator dan Forex Trader, Shella Nadia Lestari, CEO Artifashion, dan Guntur Nugraha sebagai Key Opinion Leader.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Check Also

Peringati Hari Lingkungan Hidup, PLN Icon Plus Gelar Aksi Serentak “Green Employee Involvement” Bersama 2250 Peserta Menuju Masa Depan Berkelanjutan

LOMBOK – Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup, PLN Icon Plus menggelar aksi serentak bertajuk …