Pakar Jelaskan Pentingnya Otentikasi Ganda, Cegah Peretasan Digital!

Halmahera Utara, Maluku utara -Kejahatan siber atau cybercrime telah menjadi ancaman besar dalam dunia digital. Bukan hanya menyasar tokoh besar atau perusahaan multinasional, kejahatan siber juga sangat mungkin terjadi pada pengguna digital biasanya.
Untuk itu penting bagi setiap orang yang melakukan kegiatan digital, memahami pentingnya penggunaan otentikasi ganda atau two factor authentication (2FA).
Dikatakan oleh Ika Febriana Habiba, CX Manager PT Digital Tunai Kita, pelaku peretasan di dunia digital semakin hari semakin canggih. Sehingga masyarakat perlu memberikan lapisan keamanan di dunia digital.
“Cyber hack makin canggih dalam meretas sistem dan dapat meretas banyak password kurang dari 6 jam. Itu kenapa sandi harus kompleks,” kata Ika saat berbicara dalam acara webinar Gerakan Nasional Literasi Digital wilayah Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara, Selasa (5/10/2021).
Otentikasi ganda atau 2FA sendiri merupakan lapisan keamanan tambahan untuk melindungi akun digital.
Ika sendiri menjelaskan point-point mengapa otentikasi ganda penting dilakukan seperti kemampuan peretas yang semakin canggih, 90 persen kata sandi bisa diretas dalam waktu kurang dari enam jam, serta data yang menunjukkan 65 persen user menggunakan sandi atau password yang sama dalam beberapa akun.
Lebih lanjut, beberapa faktor yang lazim digunakan dalam otentikasi ganda atau 2FA adalah sesuatu yang diketahui seperti email dan password; sesuatu yang dimiliki seperti gawai dan kode CCV; serta sesuatu yang menunjukkan siapa dirinya seperti pengenalan wajah dan finger print.
Selain Ika Febriana Habiba, hadir pula dalam acara webinar Gerakan Nasional Literasi Digital wilayah Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara, Selasa (5/10/2021) yaitu Komang Ayu Suwindiatrini, arkeolog sekaligus pegiat media sosial.
Dalam paparannya, Komang Ayu menjelaskan mengenai bahaya berita palsu atau hoaks yang banyak tersebar di media sosial. “Di KBBI, hoaks adalah berita bohong. Dalam istilah jurnalistik, berita bohong adalah berita buatan atau berita palsu,” kata Komang Ayu berbicara dalam acara yang sama.
Beberapa ciri utama berita palsu, lanjut Komang Ayu, adalah menciptakan rasa cemas, benci atau permusuhan; memiliki sumber yang tidak jelas atau tidak ada pihak yang bertanggungjawab; berita palsu umumnya sepihak atau tidak netral; mencatut nama-nama orang berpengaruh; memancing dengan fanatisme berlebih; serta judul yang dibuat provokatif.
Untuk itu, masyarakat khususnya pengguna media digital perlu lebih mawas diri dan mampu membedakan mana berita benar dan mana berita palsu.
Beberapa hal yang bisa dilakukan di antaranya jangan mudah terprovokasi, selalu verifikasi berita, setop sebar berita yang belum tentu benar, dan segera laporkan jika menemukan berita hoaks yang bermasalah.
Selain Ika Febriana Habiba dan Komang Ayu Suwindiatrini, hadir juga sebagai pembicara Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yaitu Fendi, Founder Superstar Community Indonesia dan Fisca sebagai key opinion leader.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Check Also

Jalin Sinergitas, Polda Bali Adakan Pertemuan dengan Biro Hukum dan Ham Provinsi Bali

DENPASAR – Direktorat Intelijen dan Keamanan (Ditintelkam) Polda Bali mengadakan pertemuan dengan Kepala Bagian Bantuan …