Penting! Kenali Beragam Bentuk Ujaran Kebencian yang Ada di Sekitar Kita


Ambon Maluku -Perkembangan teknologi informasi membuat interaksi sosial antara manusia kini tidak lagi terbatas jarak dan waktu. Media sosial misalnya, menjadi wadah silaturahmi bagi kerabat dan keluarga yang terpisah jauh sekaligus cara mengembangkan jaringan bagi pebisnis.
Sayangnya, ada sejumlah oknum yang memanfaatkan penggunaan media sosial untuk hal-hal yang tidak baik. Salah satu contohnya adalah menggunakan media sosial untuk menyebarkan ujaran kebencian yang bertujuan menyakiti orang lain.
“Kalau dulu saat saya masih sekolah, ujaran kebencian dilakukan lewat pamflet dan poster, ditempel di tembok. Sekarang karena ada media sosial, pelaku ujaran kebencian semakin mudah berlindung di balik anonimitas,” tutur Cenuk Sayekti, seorang dosen dan peneliti, dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah kota Ambon, Maluku, Jumat (1/10/2021).
Cenuk mengatakan ujaran kebencian berbahaya karena merupakan bentuk intimidasi dan pembatasan kebebasan berbicara. Yang lebih parah, ujaran kebencian membentuk polarisasi sosial berdasarkan kelompok identitas. Ini tentu saja mengancam demokrasi di Indonesia, yang berlandaskan Bhinneka Tunggal Ika.
“Ujaran kebencian juga menciptakan wacana permusuhan, menumbuhkan intoleransi, melukai kelompok identitas lain, serta rentan menyebabkan kekerasan terhadap individu atau kelompok identitas lain yang dianggap berbeda,” tutur Cenuk lagi.
Cenuk mengatakan ada beragam bentuk ujaran kebencian yang bisa ditemui di media sosial, yakni:

  1. Penghinaan;
  2. Pencemaran nama baik;
  3. Penistaan;
  4. Perbuatan tidak menyenangkan;
  5. Memprovokasi;
  6. Menghasut;
  7. Penyebaran berita bohong.
    Kepada siapa ujaran kebencian diberikan? Dikatakan Cenuk ujaran kebencian umumnya ditujukan terhadap ras, suku, agama, orientasi seksual, dan disabilitas.
    Ia mengingatkan bahwa ujaran kebencian berdasarkan Surat Edaran Kapolri No, 6/X/2015 merupakan tindakan pidana yang memiliki konsekuensi hukum.
    “Penting diingat bahwa ujaran kebencian merupakan tindak pindana. Pelakunya bisa dijerat UU ITE dan UU 40 tahun 2008 tentang diskriminasi rasial,” papar Cenuk.
    Lalu bagaimana mengatasi ujaran kebencian yang mungkin saja kita temui? Dikatakan Cenuk, cara te rmudah adalah dengan memberikan informasi pada pelaku bahwa apa yang ditulisnya adalah ujaran kebencian.
    Jelaskan bahwa konten yang menyulut kemarahan dan memicu konflik lain tidak akan menyelesaikan masalah. ingatkan juga bahwa penggunaan media sosial harus mengikuti aturan dan sebaiknya diisi oleh konten positif.
    “Tapi jika sudah diingatkan tidak mempan, kita bisa melaporkan akun atau konten tersebut lewat aplikasinya, misalnya report di Instagram tentang hate speech. Jika akun itu diketahui sengaja menyebarkan ujaran kebencian, kita juga bisa melaporkannya ke pihak berwajib,” tutur Cenuk.
    Dalam webinar kali ini hadir juga Chris Jatender (Kaprodi IT STTI), Inda Ulfa Mansyur (Ketua PKC PMII Maluku), dan Putri Langi (Key Opinion Leader).
    Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
    Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Check Also

Peringati Hari Lingkungan Hidup, PLN Icon Plus Gelar Aksi Serentak “Green Employee Involvement” Bersama 2250 Peserta Menuju Masa Depan Berkelanjutan

LOMBOK – Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup, PLN Icon Plus menggelar aksi serentak bertajuk …