Pelaku Pelecehan Seksual Kadang Tak Menyadari Sikapnya di Medsos

Guanyar -Penetrasi internet yang kian tinggi bukan saja meningkatkan jumlah orang yang mengakses dunia maya. Jumlah kasus pelecehan seksual pun ikut meningkat. Bahkan, kemajuan internet juga memberikan peluang untuk pelaku pelecehan berinovasi dalam menggaet korban-korbannya.
Menurut Ngakan Putu Anom Harjana, S.KM, MA, Founder Akademi Riset Indonesia dan Peneliti dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Gianyar, Bali Jumat 1 Oktober 2021, salah satu faktor penyebab terjadinya pelecehan seksual di ruang digital adalah kebebasan di internet dan sosial media.
“Penyebab lain dari pelecehan seksual di ruang digital ini juga karena kurangnya kesadaran tentang etika komunikasi di media sosial dan kurangnya kesadaran tentang batasan di media sosial,” ujar Ngakan dalam webinar yang dipandu oleh Eddie Bingky ini.
Selain itu kerap kali pelecehan ini dilakukan oleh pelaku tanpa menyadari bahwa hal itu sudah masuk ranah pelecehan. Sebab pelaku merasa perbuatannya hanya sebatas bercandaan saja. Pelecehan yang terjadi kerap dianggap lelucon dan hiburan.
Tidak hanya itu, sebagian besar pelecehan terjadi karena kurangnya pengawasan orang tua terhadap aktivitas internet pada anak dan kurangnya pengetahuan tentang cara pencegahan serta dampak yang ditimbulkan dan upaya hukum.
“Untuk itulah, lanjutnya setiap pengguna ruang digital wajib memahami apa itu pelecehan seksual,” katanya.
Dari hasil survei data komisi perlindungan anak Indonesia 2017 – 2019, jumlah pelecehan seksual di Indonesia di media sosial itu sangat banyak. Ada 1.940 jumlah kasus pengaduan anak terkait pornografi dan kejahatan siber.
“Media sosial itu ada dampaknya negatifnya yang mungkin teman-teman yang mengalami atau yang menjadi korban di sini mungkin mereka belum tahu bagaimana cara agar mencegah kira-kira agar tidak terkena atau tidak akan menjadi korban kasus pelecehan di media sosial ini,” jelasnya.
Ada beberapa tipe perilaku verbal yang dapat termasuk pada pelecehan seksual adalah seperti obrolan kosong yang bersifat seksual dan deskripsi gambar yang gamblang. Ada juga penghinaan seksual sindiran seksual dan komentar lainnya tentang pakaian tubuh atau aktivitas seksual seseorang.
Ditambah lagi adanya lelucon atau candaan ofensif tentang seks atau sifat-sifat gender tertentu. Ataupun mengeluarkan suara-suara sugestif atau menghina seperti bersiul suara serigala atau suara ciuman. Selain itu perlakuan pelaku yang memaksa untuk dibalas chat nya yang berisi kata-kata tak pantas yang terus menerus juga termasuk pelecehan seksual. Padahal yang diajak bicara sudah tak ingin membalas dan mengabaikan chat pelaku tapi terus saja berulang kali di-chat.
Selain Ngakan, pembicara lainnya adalah Astried Finnia Ayu Kirana, Managing Director PT AStrindo Sentosa Kusuma, Azizah Zuhriyah, Division Head Finance TC Invest, dan Marizka Juwita sebagai Key Opinion Leader.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Check Also

Jalin Sinergitas, Polda Bali Adakan Pertemuan dengan Biro Hukum dan Ham Provinsi Bali

DENPASAR – Direktorat Intelijen dan Keamanan (Ditintelkam) Polda Bali mengadakan pertemuan dengan Kepala Bagian Bantuan …