Cyber Bullying Bisa Muncul Jika Kita Tak Bijak Bermedsos

Ngada NTT -Ruang digital selain memberi banyak manfaat bagi kemudahan hidup pengguna internet juga memunculkan sejumlah kesempatan pelaku kejahatan untuk mengambil keuntungan pribadi dari memperdaya penggunanya. Salah satunya maraknya cyber bullying yang memenuhi ruang digital Indonesia.
“Ada banyak bentuk dari Cyber bullying diantaranya adalah Flaming, Revenge porn, Impersonation, Denigration dan Cyberstalking,” ujar Karolus Innocentius Naru, Wen and Android Developer dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, Kamis 30 September 2021.
Lebih lanjut kata Karolus, Fenomena cyber bullying di Indonesia ini bahkan di luar negeri bukan menjadi hal yang asing lagi. Fenomena ini muncul karena kita atau pengguna internet itu kurang bijak itu dalam menggunakan internet.
Cyber bullying muncul karena tidak bijaknya seseorang dalam menggunakan atau memanfaatkan teknologi. Berkat kecanggihan teknologi semua orang memiliki akses internet di satu sisi hal ini berdampak negatif karena dapat meningkatkan cyberbullying.
Secara lebih rinci lagi, ditambahkan Karolus, elemen Cyberbullying melibatkan Pelaku (Cyberbullies), Korban (victims) dan Saksi ( bystander).
“Pelaku bisa timbul baik dari kondisi mungkin dia tidak ingin membully, dia mungkin dipaksa untuk mencoba eksistensi atau dia terlihat lebih keren atau mungkin agar menunjukkan bahwa dia mempunyai sesuatu yang lebih tinggi dalam komunitas,” kata Karolus dalam webinar yang dipandu oleh Jhoni Chandra ini.
Sedangkan korban (victims), menjadi target cyber bullying adalah mereka yang berbeda dalam pendidikan, berat badan misalnya, atau agama. Dan mereka cenderung sensitif pasif dan dianggap lemah dan biasanya mereka jarang bergaul. Karakteristik korban sensitif menarik diri dari lingkungan sosial, pasif, terbelakang mental dan dia merasa rendah diri serta takut.
Sementara Saksi (bystander)adalah seseorang yang menyaksikan penyerangan perilaku bully pada korban. Ini dibedakan menjadi saksi pengantar yang mendukung peristiwa bullying dan tidak memberi bantuan apapun dan helpful bystander, yang membantu.
Ada banyak faktor penyebab cyber bullying yaitu sebagai wujud pembalasan atas penindasan yang diterima sebelumnya ataupun agar terkesan keren dan Tangguh. Bisa juga karena faktor rasa iri kepada orang lain yang akan dijadikan target cyberbullying dan menyatakan perasaan senang atau menyakiti korbannya. Juga bisa jadi karena dianggap sebagai cara untuk menyatakan dominasi dan kekuasaannya.
Untuk karakteristik cyber bullying biasanya dengan menyiksa secara psikologis. Cyber bullying dapat menyiksa korban secara psikologis dan korban biasanya mendapatkan perlakuan seperti difitnah, digosipkan ataupun penyebaran foto dan video korban dengan tujuan mempermalukan korban.
Selain Karolus, pembicara lain yang turut berbagi wawasan tentang literasi digital adalah Josephine Brightnessa Marketing Manager Digital App, Chyntia Andarinie Founder Mom Influencer Indonesia, dan Bayu eka Sari sebagai Key Opinion Leader.
Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Check Also

Peringati Hari Lingkungan Hidup, PLN Icon Plus Gelar Aksi Serentak “Green Employee Involvement” Bersama 2250 Peserta Menuju Masa Depan Berkelanjutan

LOMBOK – Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup, PLN Icon Plus menggelar aksi serentak bertajuk …